Gemabisnis.com, JAKARTA – Impor minyak kelapa sawit India selama bulan Mei mengalami penurunan 10% dibandingkan bulan April menyusul kebijakan Indonesia melarang ekspor komoditi minyak makan tersebut, demikian disampaikan the Solvent Extractors’ Association (SEA) of India seperti dikutip kantor berita Reuters hari ini.
Negara Asia Selatan itu merupakan importer terbesar minyak nabati di dunia dan penurunan pembelian tersebut bisa berdampak terhadap kontrak berjangka minyak sawit Malaysia.
Data yang dikeluarkan asosiasi tersebut menunjukkan bahwa India mengimpor 514.022 ton minyak kelapa sawit selama bulan Mei, turun dibandingkan 572.508 ton bulan April.
Indonesia yang merupakan produsen dan eksportir terbesar minyak kelapa sawit menghentikan kegiatan ekspor komoditas tersebut sejak 28 April untuk mengendalikan lonjakan harga minyak goreng di pasar dalam negerinya. Jakarta baru memperbolehkan kembali kegiatan ekspor mulai tanggal 23 Mei namun bersamaan dengan itu menerapkan kebijakan pengamanan pasokan di pasar domestiknya.
Selama bulan Mei perusahaan pengolahan minyak nabati India lebih banyak mengimpor minyak kelapa sawit dari Malaysia, Thailand dan Papua New Guinea kendati impor secara keseluruhan tetap menurun, ungkap asosiasi tersebut.
Seorang pedagang minyak nabati di Mumbai mengatakan volume impor minyak sawit bisa mencapai lebih dari 600.000 ton pada bulan Juni menyusul mulai diterbitkannya ijin ekspor oleh pemerintah Indonesia.
Seorang menteri senior Senin mengatakan alokasi ekspor minyak kelapa sawit Indonesia telah dinaikkan menjadi 2,25 juta ton dari sebelumnya 1 juta ton.
Impor minyak kedelai India melonjak 37% selama bulan Mei dibandingkan 373.043 ton pada bulan sebelumnya, sementara itu impor minyak biji bunga matahari naik hampir 100% menjadi 118.482 ton, kata asosiasi tersebut.
India membeli minyak kedelai terutama dari Argentina dan Brazil sedangkan minyak biji bunga matahari diimpor dari Ukraina dan Rusia.
Impor minyak kedelai kemungkinan naik tajam dalam beberapa bulan mendatang sehubungan dengan kebijakan pemerintah India yang memperbolehkan impor komoditi tersebut tanpa dikenakan bea masuk hingga 2 juta ton, kata seorang pedagang. (YS)












