Minggu, 18 Oktober 2026
Disusun dan dikurasi oleh Paulus W Broto
BHAGIRATHA MENUNTUN GANGGA
Amanah yang Melintasi Generasi
Gangga telah turun dari langit. Namun air yang ditunggu beberapa generasi itu kembali lenyap.
Resi Jahnu menelannya. Tempat upacaranya tergenang oleh arus sungai itu, dan ia murka. Perjuangan Raja Bhagiratha kembali tertahan. Abu leluhurnya belum tersentuh air.
Dalam Bala Kanda Ramayana Valmiki, Wiswamitra menuturkan kisah ini kepada Rama. Bhagiratha adalah leluhur Rama, pewaris pekerjaan yang telah melintasi beberapa generasi.
Putra-putra Raja Sagara telah menjadi abu. Dalam kisah suci ini, air Gangga diperlukan untuk menyucikan mereka. Amsuman, cucu Sagara, bertapa tetapi belum berhasil. Dilipa, putra Amsuman dan ayah Bhagiratha, terus memikirkan jalan pemulihan sampai meninggal sebelum berhasil.
Takhta berganti. Abu itu masih menunggu air.
Bhagiratha mengambil tanggung jawab itu. Kerajaan dipercayakannya kepada para penasihat. Ia pergi ke Gokarna dan menjalani tapa panjang. Brahma mengabulkan permohonannya, tetapi memperingatkan: bumi tidak sanggup menahan jatuhnya Gangga. Hanya Siwa yang mampu menampungnya.
Restu telah diperoleh. Namun pertolongan bagi leluhurnya belum tiba. Ia harus mengusahakan kemampuan yang belum dimilikinya.
Bhagiratha bertapa lagi. Siwa bersedia menampung Gangga, putri Himavat: “Aku akan menahan putri gunung itu di kepalaku.”
Gangga turun dengan keangkuhan. Ia hendak menyeret Siwa ke alam bawah. Siwa menahannya dalam jalinan rambutnya. Bertahun-tahun Gangga tidak menemukan jalan keluar. Air sudah turun dari langit, tetapi belum dapat mencapai bumi.
Bhagiratha kembali bertapa.
Keteguhannya hadir dalam kesediaan mengerjakan kembali apa yang belum selesai. Siwa berkenan melepaskan Gangga ke Danau Bindu. Dari sana muncul tujuh aliran; satu mengikuti kereta Bhagiratha.
Para dewa dan resi menyaksikan keagungannya. Air bergemuruh. Bhagiratha bergerak di depan. Di tengah kekaguman itu, abu leluhurnya masih menunggu air.
Di tengah perjalanan itulah tempat upacara Jahnu tergenang. Sang resi menelan airnya. Jalan kembali tertutup. Arus yang hendak membawa pemulihan telah mengganggu kehidupan pihak lain.
Para dewa dan resi memuliakan Jahnu. Gangga diterima sebagai putrinya, lalu dilepaskan melalui kedua telinganya. Ia pun disebut Jahnawi. Perjalanan dilanjutkan melalui penghormatan dan pertalian baru.
Gangga kembali mengikuti Bhagiratha, mencapai samudra, lalu alam bawah. Ketika melihat abu leluhurnya, Bhagiratha berduka. Air Gangga akhirnya membasahi abu itu; menurut kisahnya, mereka tersucikan dan mencapai surga.
Bhagiratha menuntaskan persembahan air, lalu pulang memerintah. Yang ditunggu beberapa generasi itu akhirnya terlaksana.
Ia memerlukan restu, bantuan, keteguhan, serta kesediaan menghadapi akibat perjalanannya. Setiap hambatan meminta jawaban berbeda. Tujuannya tetap dijaga; caranya terus diperbaiki sampai pertolongan tiba.
Pada 17 Agustus 1945, Soekarno didampingi Mohammad Hatta membacakan Proklamasi. Sebelumnya, pada 1 Juni 1945, Bung Karno menyebut kemerdekaan sebagai “jembatan emas”: “Di seberangnya jembatan itulah kita sempurnakan kita punya masyarakat.”
Delapan puluh satu tahun kemudian, banyak kemajuan tercapai. Namun pekerjaan mengubah kekayaan dan akses menjadi kemampuan serta kesejahteraan yang merata belum tuntas.
Niat baik pun dapat berhadapan dengan kepentingan orang atau kelompok lain. Sesuatu yang kita anggap kemajuan dapat mengusik penghidupan, kebiasaan, atau ruang hidup mereka. Orang yang keberatan dapat sedang menjaga sesuatu yang belum kita pahami. Keberatan itu perlu didengar dan diperiksa.
Jalan damai menuntut keberanian menjelaskan tujuan, mendengar yang terdampak, dan memperbaiki bagian rencana yang merugikan. Perantara yang dipercaya dapat membantu ketika para pihak sulit saling mendengar. Kesepakatan perlu dicari dengan jujur dan adil. Kepentingan yang hendak dilindungi pun perlu diuji terhadap manfaat bersama.
Di sinilah saya perlu lebih dahulu berkaca. Menjelang reuni empat puluh tahun ITB ’86, saya bersyukur atas pendidikan yang mengajarkan kami berhitung dan memecahkan persoalan teknis. Sudahkah kecakapan itu kami pertemukan menjadi prakarsa yang membangun industri dan memperluas manfaat bagi sesama?
Latar pendidikan, profesi, dan jalan hidup kita boleh berbeda. Ada yang menguasai teknologi, memahami pasar, menjaga pembiayaan, atau mampu mengelola manusia. Kemampuan mengelola kemampuan itulah yang perlu kita tumbuhkan.
Kita tidak perlu menunggu seluruh kemampuan terkumpul sempurna. Pilih satu persoalan nyata. Temukan orang yang membutuhkan penyelesaiannya. Bentuk tim, uji gagasan, batasi risiko, dan tetapkan ukuran hasil. Mulai secukupnya, perbaiki berdasarkan kenyataan, lalu perluas ketika manfaatnya terbukti.
Orang yang bekerja jujur perlu mendapat ruang mencoba dan menjelaskan kegagalan. Hasil buruk tidak dengan sendirinya membuktikan niat buruk. Keputusan dan buktinya tetap harus diperiksa; manipulasi tidak boleh berlindung di balik nama inovasi.
Saya juga perlu memeriksa apakah cara saya memimpin memberi orang alat, waktu, dan ruang untuk bertanggung jawab, atau justru membuat mereka hanya berani mengikuti keputusan saya.
Waktu yang masih diberikan Gusti perlu dipergunakan lebih sungguh-sungguh. Kita dapat meninggalkan kemampuan agar generasi berikutnya tidak memulai dari nol. Hamemayu Hayuning Bangsa hidup ketika ilmu menjadi kemampuan, kemampuan menjadi karya, dan karya memperluas kehidupan sesama.
Air itu telah turun dari langit. Bhagiratha menjaganya sampai menyentuh abu.
Bagian pekerjaan mana yang kini sungguh bersedia saya ambil, saya perbaiki, dan saya jaga sampai manfaatnya tiba?










