Gemabisnis.com, JAKARTA – Perang yang terjadi antara dua produsen gandum dunia Rusia dan Ukraina hingga kini belum menimbulkan dampak terhadap pasokan gandum khususnya ke Indonesia, demikian diungkapkan oleh Francicus Welirang, Ketua Umum Asosiasi Produsen Terigu Indonesia (APTINDO) dalam perbincangannya dengan Gemabisnis.com akhir pekan lalu.
Franky, panggilan akrab Franciscus Welirang, mengatakan saat ini sedang tidak ada pengiriman gandum dari Ukraina ke Indonesia (dan juga ke negara lainnya) karena memang di Ukraina saat ini sedang tidak ada panen gandum. Baru sekitar empat bulan ke depan Ukraina akan memasuki musim panen gandum.
Menurut Franky, selama ini Ukraina merupakan salah satu pemasok gandum terbesar bagi Indonesia. Pada tahun 2021 Ukraina menjadi pemasok gandum terbesar kedua bagi Indonesia setelah Australia dengan volume 3,1 juta ton, sedangkan Australia memasok 4,7 juta ton. Namun pada tahun 2018-2020 Ukraina pernah menyisihkan Australia dan negara lainnya dan menjadi pemasok gandum terbesar ke Indonesia. Pada tahun 2018 Ukraina mengekspor 2,4 juta ton gandum ke Indonesia dengan selisih yang sangat tipis di atas Australia.
Baru pada tahun 2019 dan 2020 ketika produksi gandum Australia anjlok akibat kekeringan yang disertai dengan bencana kebakaran semak belukar, Ukraina menjadi pengekspor gandum terbesar jauh melampaui Australia yang merupakan pemasok gandum tradisional bagi Indonesia. Pada tahun 2019 dan 2020 ekspor gandum Ukraina ke Indonesia berturut-turut mencapai hampir 3 juta ton, jauh di atas Australia yang hanya mengekspor 822.510 dan 830.837 ton.
Total impor gandum Indonesia pun mengalami kenaikan signifikan sebesar 11,5% pada tahun 2021 di angka 11,5 juta ton dari 10,3 juta ton pada tahun 2020. Diperkirakan pada tahun 2022 ini impor gandum Indonesia tidak akan berbeda jauh dari tahun 2021.
Selain dari Australia dan Ukraina, Indonesia juga mengimpor gandum dari berbagai negara lainnya seperti Kanada, Argentina, AS, India, Bulgaria, Brazil, Moldova, Federasi Rusia dan lain-lain.
Impor gandum Indonesia dari Federasi Rusia sempat mencapai angka tertinggi 1,2 juta ton pada tahun 2018 namun kemudian turun menjadi 516.929 ton pada tahun 2019, serta 68.816 ton tahun 2020 dan tinggal 2.955 ton tahun 2021. (YS)










