Minggu, 4 Oktober 2026
Disusun dan dikurasi oleh Paulus W Broto
RAMA NYIMAK KANTHI SETITI
Ketika Kata-Kata Belum Menjadi Pengertian
Rama terbaring di pangkuan Laksmana.
Air mata adiknya mengalir. Para wanara, pasukan kera sekutu Rama, ikut berduka. Wibisana datang dan bertanya apa yang terjadi.
Hanoman baru saja membawa kabar mengerikan: Indrajit, putra Rahwana, membunuh Sita di hadapannya. Dalam Yuddha Kanda Ramayana Valmiki, Rama jatuh seperti pohon yang terpotong pangkalnya. Para wanara menyiramkan air harum teratai. Laksmana memeluk kakaknya yang terpuruk.
Mereka datang ke Alengka untuk menyelamatkan Sita, istri Rama yang ditawan Rahwana. Kini perempuan yang diperjuangkan itu dikabarkan telah tiada. Hanoman, yang dahulu menemukannya, justru membawa kabar kematiannya.
Ia mengenali sosok di kereta Indrajit: kurus, berpakaian lusuh, dan menderita. Sosok itu memanggil Rama ketika diperlakukan dengan kejam. Hanoman menangis; di hadapannya, sosok itu kemudian dibunuh.
Ia menyampaikan apa yang diyakininya benar. Ia pun diperdaya.
Wibisana, adik Rahwana yang telah menjadi sekutu Rama, menjelaskan siasat tersebut. Ia mengenal maksud kakaknya terhadap Sita. Berkali-kali ia meminta Rahwana melepaskannya, dan ditolak. Pengetahuan itu memberinya alasan untuk meragukan kabar yang dibawa Hanoman.
Yang dibunuh adalah Sita semu. Indrajit hendak melumpuhkan semangat lawan agar dapat menuntaskan ritual di Nikumbhila. Sesudahnya, ia akan semakin sulit dikalahkan.
Sita masih hidup. Tetapi penjelasan itu belum menjadi pengertian.
Rama mendengar perkataan Wibisana, tetapi kedukaan membuatnya belum memahami dengan jernih. Ia menguatkan diri. Di hadapan para wanara, ia meminta penjelasan diulang. Dalam terjemahan bebas:
“Wibisana, aku ingin mendengar kembali perkataanmu. Sampaikan apa yang hendak kaukatakan.”
Wibisana menjelaskan kembali dengan lembut. Ia mengajak Rama melepaskan kedukaan yang bertumpu pada kabar keliru dan kembali mengusahakan penyelamatan Sita.
Sita masih dapat diselamatkan. Perjuangan belum kehilangan tujuannya.
Waktu mendesak. Indrajit harus dihadapi sebelum ritualnya selesai. Rama nyimak kanthi setiti. Setelah memahami penjelasan Wibisana, ia menugaskan Laksmana bersama Hanoman, pasukan Jambawan, dan Wibisana yang memahami siasat lawan. Laksmana mengambil busur, mengenakan perlengkapan perang, lalu memberi hormat sebelum berangkat.
Rama perlu ditolong untuk memahami. Kesediaannya meminta penjelasan kembali justru membuka jalan bagi pasukannya untuk bergerak.
Kakawin Ramayana Jawa Kuno menghadirkan adegan berbeda. Rahwana memperdaya Sita dengan kepala semu Rama dan Laksmana. Trijata, pendamping Sita, menemui Wibisana, ayahnya. Ia melihat kedua kesatria itu masih hidup, lalu kembali membawa kepastian kepada Sita.
Dalam cermin ini, kejujuran pembawa kabar belum menjamin ketepatan kabarnya. Penglihatan seorang utusan yang setia pun dapat diperdaya.
Nyimak kanthi setiti: menyimak dengan perhatian penuh dan ketelitian sehingga tercapai kemanunggalan.
Telinga menerima perkataan. Pikiran memeriksa maksud, alasan, dan hubungannya. Rasa memberi tempat bagi pengalaman serta kepentingan orang lain. Seluruh diri hadir agar bunyi menjadi makna.
Manunggal rasa berarti saling memahami kekhawatiran, harapan, dan akibat yang ditanggung. Kita mendekatkan rasa tanpa memaksakan emosi yang seragam.
Manunggal pemikiran/karsa berarti memahami persoalan yang sama: apa yang diketahui, apa yang belum jelas, dan apa yang perlu diselesaikan. Dari pengertian yang jernih, kita mempertemukan kehendak serta arah yang hendak dituju.
Manunggal laku/karya berarti meneruskan pemahaman dan kehendak itu menjadi tindakan yang selaras, dengan peran serta tanggung jawab yang jelas, hingga pekerjaan menghasilkan manfaat.
Perbedaan pendapat tetap mempunyai tempat. Kita tidak menolak sebelum memahami atau menyetujui tanpa mengerti. Yang berbicara pun perlu sabar menjelaskan kembali, agar perhatian tidak terputus sebelum kebutuhan sesungguhnya dipahami.
Suatu kali saya hadir dalam sebuah pertemuan, tetapi pikiran dan hati saya berada di tempat lain. Saat diminta pendapat, barulah terasa kosong. Kata-kata telah sampai ke telinga, tetapi maksudnya belum sampai kepada saya.
Badan saya hadir. Pikiran dan hati saya tidak.
Yang perlu saya pulihkan saat itu bukan wibawa, melainkan perhatian. Lebih baik jujur meminta penjelasan diulang daripada memberi jawaban seolah-olah mengerti. Sebab orang yang berbicara kepada saya berhak mendapat lebih dari sekadar kehadiran badan saya.
Pekan ini Presiden Prabowo merombak kabinet dan mengangkat 26 anggota Dewan Pertimbangan Presiden dari beragam latar pengalaman.
Saya berharap pembaruan itu disertai kesediaan memeriksa kekeliruan. Presiden perlu nyimak kanthi setiti pertimbangan para penasihat; mereka perlu berani menyampaikan kenyataan, menjelaskan risiko, dan berbeda pendapat. Kepakaran jangan berhenti sebagai deretan nama. Suara warga pun harus sampai, diteruskan menjadi keputusan dan pelayanan.
Di Mahkamah Konstitusi, pemeriksaan permohonan mengenai syarat pendidikan Gibran dalam pencalonan Pilpres 2024 mempertemukan dalil pemohon, bantahan KPU, serta keterangan mengenai dokumen dan penyetaraan pendidikan.
Putusan belum diumumkan. Hakim perlu nyimak kanthi setiti: mendengar secara berimbang serta menguji keaslian dokumen, dasar penyetaraan, bukti, dan bantahan secara independen, dalam batas kewenangan pengadilan. Permohonan belum merupakan bukti kesalahan. Dasar keputusan perlu dijelaskan dengan jernih.
Laporan dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis di Batang menuntut perhatian yang sama. Kepala Badan Gizi Nasional perlu nyimak kanthi setiti: mendengar keluarga, tenaga kesehatan, ahli keamanan pangan, dan pekerja dapur. Bila laporan yang tidak menyenangkan hanya disambut pembelaan, akar persoalan berisiko luput.
Rawat pasien dan telusuri penyebabnya. Periksa bahan, kebersihan, pengolahan, penyimpanan, serta distribusi. Pastikan makanan pengganti aman dan perbaikan teruji sebelum dapur kembali beroperasi. Pelajarannya harus sampai ke daerah lain.
Mengakui kekurangan menjaga tujuan baik agar tidak melukai orang yang hendak disehatkan.
Sri Sultan Hamengku Buwono X, dalam sambutan WUJA 2026, mengingatkan:
“Maka kepemimpinan tidak cukup diukur dari kuatnya suara, ia juga tampak dari kesanggupan seseorang untuk mendengar yang lirih, menimbang yang samar, dan menjaga agar kuasa tidak kehilangan rasa.”
Cermin itu pulang bersama kita.
Bayangkan anak yang penjelasannya kita potong: “Ayah, aku belum selesai.”
Kita dapat meletakkan telepon: “Maaf, Ayah terlalu cepat menyimpulkan. Ceritakan lagi.”
Pasangan pun layak mendapat perhatian yang sama. Keluarga adalah organisasi terkecil dalam kehidupan bangsa; di sanalah kita berlatih menghormati suara, menggunakan kewenangan tanpa merendahkan, dan memperbaiki kekeliruan. Pengalaman disimak dapat menjadi bekal anak ketika kelak memimpin.
Dari keluarga hingga negara, pemahaman perlu diteruskan menjadi tindak lanjut.
Hamemayu Hayuning Bangsa hidup ketika pengetahuan menuntun keputusan, rasa menjaga martabat, dan keberanian menerima koreksi membuka jalan pemulihan.
Di medan Alengka, Laksmana bersiap berangkat. Sita masih hidup. Sebelum Laksmana mengambil busur, Rama lebih dahulu meminta penjelasan diulang.
Sudahkah orang yang berbicara kepadaku sungguh kupahami, atau hanya kutunggu selesai agar aku dapat menjawab?








