Minggu, 25 Oktober 2026
Disusun dan dikurasi oleh Paulus W Broto
Tangan-tangan itu saling menggenggam di dalam gelap.
Hanoman, Anggada, dan para wanara menyusuri gua, letih, lapar, dan kehausan. Burung-burung yang keluar dengan tubuh basah memberi petunjuk adanya air. Mereka masuk dengan harapan. Namun cahaya matahari maupun bulan tidak menjangkau tempat itu. Mereka bergandengan agar tidak terpisah.
Dalam Kishkindha Kanda Ramayana Valmiki, rombongan pimpinan Anggada itu diutus Raja Sugriwa mencari Sita, istri Rama yang diculik Rahwana. Para wanara—kaum kera sekutu Rama—memiliki kekuatan dan keberanian. Kini mereka telah berjalan jauh di dalam gua, kehilangan arah, dan membutuhkan pertolongan.
Kemudian tampak cahaya.
Pepohonan keemasan, telaga, dan rumah-rumah emas serta perak terbentang di hadapan mereka. Jendela bangunannya berselubung jaring mutiara; peralatan berharga tersusun di sekelilingnya. Di tengah kemegahan itu tinggal seorang perempuan pertapa tua, berpakaian sederhana dan menjalani pengendalian diri.
Hanoman menyampaikan hormat dan menanyakan siapa dirinya serta pemilik tempat itu. Namanya Swayamprabha. Ia menjaga kediaman Hema, bidadari sahabatnya. Tempat itu dibangun oleh Maya, pembangun dengan kemampuan luar biasa.
Swayamprabha mempersilakan mereka menikmati buah, umbi, dan minuman. Sesudah tubuh mereka pulih, barulah ia meminta kisah perjalanan mereka.
Hanoman menjelaskan tugas pencarian itu. Ia mengatakan bahwa mereka telah diselamatkan ketika hampir mati kelaparan. Dalam terjemahan bebas, ia bertanya:
“Apa yang dapat kami lakukan untuk membalasmu?”
Swayamprabha menjawab:
“Aku menjalankan dharma. Tidak ada yang perlu kalian lakukan untukku.”
Mereka telah memperoleh makanan. Tetapi mereka masih terkurung.
Tenggat pencarian telah terlampaui. Sita belum ditemukan. Mereka takut menghadapi Sugriwa. Hanoman menyatakan bahwa mereka berlindung kepadanya, lalu kembali meminta pertolongan: tunjukkan jalan keluar.
Swayamprabha menjelaskan bahwa orang yang memasuki gua itu sukar keluar hidup-hidup. Namun ia bersedia mengantarkan mereka dengan kekuatan tapanya.
Para wanara diminta memejamkan mata. Mereka yang ingin keluar itu bergembira dan menutup matanya dengan tangan. Dalam sekejap, mereka dibawanya keluar.
Di luar gua, Swayamprabha menunjukkan pegunungan dan samudra, menyampaikan harapan keselamatan, lalu kembali ke kediamannya.
Ia memberikan makanan, lalu menggunakan kemampuannya untuk membuka jalan. Rombongan itu memperoleh kembali kemungkinan melanjutkan tugasnya. Tidak ada pekerjaan yang harus mereka lakukan untuk membayarnya.
Bagi saya, di situlah pertolongan menjadi kasih: orang yang ditolong mendapat kembali ruang untuk menjalani hidupnya.
Minggu ini saya mengajar murid-murid saya tentang Tresno dan Pengorbanan. Cinta perlu memperoleh wujud dalam waktu, perhatian, kenyamanan yang direlakan, serta kesalahan yang sungguh diperbaiki. Kita menyebutnya Cinta Kasih, bukan Cinta Minta.
Pelajaran itu lebih dahulu meminta saya bercermin. Ketika memberi, apakah saya masih menyimpan tagihan yang tidak pernah saya ucapkan? Haruskah penerima terus memuji dan menyetujui saya agar pemberian itu terasa berharga?
Terima kasih dapat lahir dengan tulus. Yang merusak ialah ketika pertolongan harus dibayar dengan kepatuhan. Penerima dapat menjadi takut berbicara jujur karena khawatir kehilangan bantuan.
Dalam Pelajaran Pengorbanan, saya mengingatkan: kita tidak dapat mengambil milik orang lain dan menyebutnya pengorbanan sendiri. Jika seluruh akibat keputusan dibebankan kepada orang lain, kerelaan siapa yang sedang kita banggakan?
Pelajaran itu menjadi berat ketika dibawa ke kepemimpinan.
Uang publik yang dikelola bukan persembahan pribadi seorang pejabat. Pelayanan jangan dijadikan utang budi warga. Orang yang menerima bantuan harus tetap boleh mengkritik, berbeda pendapat, dan meminta penjelasan.
Program makanan perlu menjaga anak; keluarga perlu didengar ketika mempertanyakan keselamatannya. Koperasi perlu memperluas kesempatan anggota. Penanganan bencana perlu melindungi warga sekaligus petugas yang datang menolong.
Keberanian petugas harus ditopang perlengkapan, pelatihan, dan perlindungan yang memadai. Penghormatan kepada pengorbanan mereka perlu tampak sebelum ada keluarga yang harus menerima kabar kehilangan. Kesetiaan tidak patut ditagih dengan membiarkan orang menanggung bahaya yang seharusnya dikurangi.
Jabatan meminta kesediaan memikul tanggung jawab. Yang perlu direlakan dapat berupa kenyamanan, keuntungan pribadi, atau keinginan selalu dianggap benar. Ukuran pelayanan tampak pada kebutuhan yang terpenuhi, kemampuan yang bertumbuh, serta keluhan yang memperoleh jawaban.
Di situlah Hamemayu Hayuning Bangsa memperoleh laku: kepedulian melindungi martabat dan memperluas kemampuan. Pelayanan untuk mengatasi kebodohan dan kemiskinan perlu membuat warga berdaya.
Kasih tetap perlu menghormati keterbatasan manusia. Meminta bantuan bukan aib. Upah yang disepakati, istirahat, kehidupan keluarga, dan perlindungan tetap perlu dijaga. Memberi juga harus mempertimbangkan mereka yang bergantung pada kita.
Sebagai guru, saya perlu menerima pertanyaan murid yang tidak nyaman bagi saya. Sebagai pemimpin usaha, saya perlu mendengar orang yang menunjukkan kekeliruan keputusan saya. Pertumbuhan kemampuan mereka tidak patut saya alami sebagai kehilangan wibawa. Kasih juga dapat menolak kebohongan dan menghentikan tindakan yang merugikan, sambil tetap menghormati orangnya serta membuka jalan perbaikan.
Mulailah dari tanggung jawab sendiri: dengarkan sampai selesai, tuntaskan kewajiban, lepaskan keuntungan yang tidak patut, dan benahi keputusan yang membebani orang lain. Tanyakan kebutuhan penerima sebelum menentukan pertolongan. Jika saya keliru, jangan penerima yang diminta menyembunyikan keluhan agar nama saya tetap baik.
Di luar gua, Sita masih harus dicari. Swayamprabha telah kembali ke kediamannya. Pertolongannya memungkinkan perjalanan itu diteruskan.
Setelah menerima pertolonganku, apakah hidupmu menjadi lebih lapang—atau justru semakin terikat kepadaku?









