Disusun dan dikurasi oleh Paulus W Broto
Takhta Boleh Hilang, Dharma Tidak
“Datanglah, lihat tubuh para pertaspa yang telah dibunuh.”
Demikian permintaan para pertapa kepada Rama, dalam terjemahan bebas dari Ramayana Valmiki. Mereka meminta ia melihat apa yang tidak boleh dibiarkan berulang.
Di hutan Dandaka, setelah Resi Sarabhanga meninggalkan dunia, para pertapa berkumpul di pertapaannya. Mereka mendatangi Rama. Rekan-rekan mereka telah dibunuh para raksasa; kehidupan yang tersisa membutuhkan perlindungan.
Rama adalah pangeran Ayodhya yang sedang menjalani pengasingan bersama Sita, istrinya, dan Laksmana, adiknya. Penobatan yang semula disiapkan untuknya batal. Di hutan, ia tetap membawa kecakapan, senjata, dan dharma kesatria: kewajiban menjaga kehidupan.
Para pertapa mengenal keberanian dan kebajikannya. Mereka mengingatkan bahwa penguasa yang mengambil seperenam hasil negeri tetapi tidak melindungi rakyat seperti anak sendiri telah menyimpang dari dharma.
Mereka tidak sedang menawarkan pembayaran. Mereka menagih tanggung jawab yang melekat pada kekuasaan.
Rama menjawab dengan kesediaan menerima perintah mereka. Dalam terjemahan bebas: “Perintahkan aku.”
Ia menyatakan akan menghadapi para penyerang bersama Laksmana. Dalam perjumpaan itu, tidak ada pasukan Ayodhya yang menerima perintah untuk menggantikannya. Pengasingan yang dijalaninya demi mematuhi ayahnya, kata Rama, akan memperoleh buah melalui pertolongan itu.
Takhta yang tidak jadi diterimanya tidak menghapus kehidupan yang masih dapat dijaganya.
Di hadapan permintaan itu, ada jarak antara merasa iba dan mengambil tanggung jawab. Jarak itu harus ditempuh dengan pekerjaan: kemampuan yang dipersiapkan, bahaya yang diperhitungkan, dan kesanggupan yang dilaksanakan.
Para pertapa meminta kesempatan untuk hidup.
Kesanggupan itu kemudian berhadapan dengan peringatan dari orang yang paling dekat dengannya.
Dalam perjalanan berikutnya, setelah meninggalkan pertapaan Sutikshna, Sita berbicara. Ia mengkhawatirkan kekerasan terhadap pihak yang tidak bersalah. Kedekatan dengan senjata, menurut perumpamaannya, dapat menyulut kekerasan seperti bahan bakar membesarkan api.
Ia menuturkan kisah seorang pertapa yang dititipi pedang. Demi menjaga titipan, pedang itu terus dibawanya, bahkan ketika mencari buah dan akar. Lambat laun, pikirannya berubah. Ia menjadi kejam dan meninggalkan tapanya.
Pedang tetap berada dalam penjagaannya. Yang perlahan hilang ialah kejernihan orang yang membawanya. Amanah menjaga sesuatu telah mengubah orang yang menjaganya.
Sita meminta Rama menimbang tindakannya bersama Laksmana. Senjata seorang kesatria seharusnya melindungi yang menderita. Kesanggupan menghadapi ancaman harus disertai kejernihan mengenali siapa yang sungguh mengancam.
Rama mendengarkan, lalu menjelaskan permohonan para pertapa. Mereka memiliki daya tapa untuk melawan, tetapi tidak ingin menghabiskan hasil tapanya dengan mengutuk para penyerang. Mereka telah meminta perlindungan, dan ia sudah berjanji.
Jawabannya kemudian menyentuh batas yang menyakitkan. Rama menyatakan rela melepaskan hidupnya, bahkan meninggalkan Sita dan Laksmana, daripada mengingkari janji kepada para pertapa itu.
Dan Sita, yang mendengar jawaban itu, termasuk orang yang mungkin ditinggalkan.
Rama juga mengakui bahwa peringatan Sita lahir dari kasih. Ia bahkan menyebutnya sebagai pendamping dalam dharma yang lebih berharga daripada hidupnya.
Bagi kita, kasih dan kewajiban di sini tidak mudah didamaikan.
Valmiki membiarkan kita merasakan beratnya benturan itu. Kita tidak perlu mengubahnya menjadi ajaran bahwa setiap janji harus dipenuhi dengan mengorbankan siapa pun. Justru orang yang menjanjikan perlindungan perlu memikirkan mereka yang ikut menanggung akibatnya.
Kita pun mengenal beratnya keadaan ketika seseorang menunggu pertolongan, sementara kemampuan dan kewajiban kita mempunyai batas. Menyadari batas itu meminta kita mencari jalan agar bantuan tetap sampai dan kehidupan yang lain tetap terjaga.
Dari perjumpaan ini, kita membawa refleksi:
Hidupku harus menghidupkan kehidupan orang lain.
Kehidupan orang lain mencakup mereka yang jauh dan mereka yang dekat. Keberanian hadir perlu berjalan bersama keberanian mendengar peringatan. Pengabdian kehilangan arahnya bila keselamatan hanya diperhitungkan bagi satu pihak.
Dalam adegan berbeda, Kakawin Ramayana menghadirkan wejangan Rama kepada Wibisana. Perbuatan mengusahakan kesejahteraan dunia diibaratkan sebagai istana, dan belas kasih sebagai lantai batunya. Dalam pembacaan kita, laku di Dandaka sejiwa dengan gambaran itu: tanggung jawab dapat dijalankan jauh dari istana.
Para pertapa tetap hendak menjalani tapanya. Mengayomi berarti menjaga ruang agar kehidupan dan kemampuan mereka dapat tumbuh.
Ruang itu juga yang kita perlukan untuk belajar, bekerja, mencari nafkah, dan pulang kepada keluarga.
Pekan ini, pencarian korban KM Virgo Transport 8 di Laut Jawa masih berlangsung. Di Lamongan, kebakaran pabrik merenggut nyawa pekerja; penyebabnya masih diselidiki. Di Kolaka Timur, petugas puskesmas membagikan masker menghadapi kabut asap kebakaran hutan dan lahan.
Ketiganya mengingatkan bahwa perlindungan harus sampai kepada manusia. Kapal perlu layak berlayar, pekerjaan perlu aman dilakukan, dan udara perlu dijaga. Ketika bencana terjadi, pertolongan memerlukan kecakapan, perlengkapan, koordinasi, serta tindak lanjut bagi keluarga.
Pengabdian petugas layak dihormati dengan memastikan mereka mempunyai sarana untuk bekerja. Keberanian mereka tidak boleh menjadi alasan membiarkan kekurangan terus berlangsung.
Dari kebutuhan akan perlindungan itu, bayangkan Indonesia sebagai rangkaian yang daya penggeraknya tumbuh di banyak bagian. Daerah mengembangkan keterampilan, mengolah aset, dan terhubung dengan daerah lain. Ini sebuah perumpamaan untuk direnungkan: pengayoman memberi kemampuan setempat ruang untuk bekerja, tanpa menganggap semua daerah membutuhkan cara yang sama.
Mengayomi juga menyentuh martabat ketika tugas seseorang berakhir.
Kita dapat menilai pekerjaan, menegur kesalahan, atau mengakhiri kerja sama sambil tetap menghormati manusianya. Jelaskan persoalan dan alasan keputusan. Beri ruang untuk didengar. Seseorang tidak kehilangan harga dirinya hanya karena kita tidak lagi memerlukan perannya.
Jabatan dapat berakhir. Martabat manusia tetap harus dijaga.
Dalam sambutan WUJA 2026, Sri Sultan Hamengku Buwono X mengingatkan pentingnya “menjaga agar kuasa tidak kehilangan rasa”. Nasihat itu dapat diuji dalam keputusan yang kita ambil hari ini, termasuk terhadap orang yang tidak dapat membalas atau menguntungkan kita.
Kesanggupan menolong pun membutuhkan batas yang jujur. Kita boleh mengakui keterbatasan, meminta bantuan, dan memperbaiki cara. Orang yang telah percaya kepada kita berhak mengetahui apa yang sanggup kita kerjakan.
Ingat kembali seseorang yang pernah kita janjikan pertolongan. Hubungi dia. Periksa kebutuhannya. Bila belum terjawab, jelaskan hambatannya, ajak orang yang lebih mampu, dan tentukan langkah berikutnya. Pengabdian berlanjut sampai pertolongan memperoleh bentuk yang nyata.
Rama meneruskan perjalanan bersama Sita dan Laksmana. Busur tetap dibawanya. Janji telah diberikan; hutan belum serta-merta aman.
Kaca Batin Indonesia pagi ini mengajak kita bertanya:
Siapa yang hidupnya dapat lebih terjaga karena aku bersedia hadir?
Rama tidak membawa mahkota ke Dandaka. Di tangannya ada busur; dalam perjalanannya ada janji yang masih harus dikerjakan.









