Gemabisnis.com, JAKARTA–Pembekuan aset-aset Rusia di luar negeri terus berlanjut. Terbaru, pihak berwenang Prancis telah membekukan dana Bank Rusia senilai 22 miliar euro, serta rekening dan properti individu yang dikenai sanksi oleh negara-negara barat, kata Menteri Ekonomi dan Keuangan Prancis Bruno Le Maire dalam siaran langsung stasiun radio RTL, yang diutip kantor berita Tass, Minggu (20/03/2022) .
“Kami telah membekukan aset Bank Sentral Rusia senilai 22 miliar euro. Kami juga telah membekukan dana pada rekening individu di perusahaan Prancis senilai 150 juta euro,” katanya. Properti senilai “setengah miliar euro” yang dimiliki oleh sekitar 30 orang Rusia juga telah dibekukan di wilayah Prancis, dan dua kapal pesiar senilai total 150 juta euro telah ditahan, menteri menambahkan.
“Sejak kami mendirikan pusat yang menyatukan upaya ratusan pegawai dinas intelijen keuangan TRACFIN, Direktorat Perbendaharaan, Bea Cukai, dan Keuangan Publik untuk pertama kalinya dalam sejarah Kementerian Ekonomi dan Keuangan, kami telah berhasil mengungkap dan membekukan aset taipan Rusia senilai total 1,8 miliar euro di wilayah Prancis selain dari 22 miliar euro Bank Sentral Rusia,” katanya.
Pembekuan properti tidak berarti pembuangan untuk keuntungan negara, kata Le Maire. Isunya adalah tentang memastikan bahwa pemiliknya tidak dapat menjualnya kembali atau menggunakannya untuk mendapatkan keuntungan.
Presiden Rusia Vladimir Putin pada 24 Februari, sebagai tanggapan atas permintaan kepala Republik Donbass, telah membuat keputusan untuk melakukan operasi militer khusus di Ukraina dan menekankan bahwa Moskow tidak memiliki rencana untuk menduduki wilayah Ukraina.
Negara-negara Barat menanggapi tindakan otoritas Rusia dengan menjatuhkan sanksi, baik pribadi maupun sektoral, terutama mengenai utang negara dan sektor perbankan Rusia. Selain itu, banyak perusahaan swasta telah memutuskan untuk menangguhkan operasi di Rusia atau sepenuhnya menarik diri dari proyek-proyek Rusia dan menolak berinvestasi di Rusia. (IK)













