Gemabisnis.com, JAKARTA – Meningkatnya penyerapan gabah/beras di dalam negeri oleh Perum BULOG selama tahun 2025 yang diikuti dengan peningkatan stok beras nasional di awal tahun 2026 hingga mencapai angka tertinggi sepanjang sejarah BULOG, tentu saja menimbulkan konsekuensi dan tantangan tersendiri bagi manajemen Perum BULOG.
Selain digunakan untuk cadangan beras nasional, sebagian stok beras yang melimpah tersebut harus dapat dikelola dengan baik atau dijual/didistribusikan ke pasar, baik ke pasar dalam negeri maupun luar negeri. Sebab, beras yang terlalu lama tersimpan di gudang, walaupun dengan sistem pengelolaan yang baik, secara alami akan terus mengalami penurunan mutu. Jika penjualan/penyaluran/pendistribusian stok beras tersebut terganggu maka dengan sendirinya akan timbul masalah serius menyangkut kinerja keuangan Perum BULOG.
Di sinilah seninya mengelola stok beras dalam jumlah besar seperti yang dihadapi BULOG sehari-hari. Di satu sisi dengan stok beras yang besar tersebut BULOG harus bisa memenuhi kebutuhan cadangan pangan nasional, namun di sisi lain juga harus mampu memenuhi kebutuhan untuk penyaluran stabilisasi pasokan dan harga pangan (SPHP), bantuan pangan untuk masyarakat miskin dan untuk bantuan bencana alam.
Dengan stok setara beras yang di awal tahun 2026 mencapai 3,25 juta ton, BULOG sudah harus mulai memikirkan untuk memasok beras tidak hanya ke pasar dalam negeri tapi juga ke pasar luar negeri (ekspor). Hal itu disampaikan Direktur Utama Perum BULOG Letjen TNI (Purn) Ahmad Rizal Ramdhani dalam sebuah bincang-bincang ringan dengan awak Gemabisnis.com di sela-sela acara Konferensi Pers Awal Tahun, Jum’at (2/1) di kantor pusat Perum BULOG Jakarta.
Menurut Rizal, dengan tingginya stok beras saat ini BULOG memiliki kelonggaran untuk melakukan ekspor karena volume stok yang dimiliki melebihi volume kebutuhan operasional Perum BULOG secara nasional. Karena itu, Rizal mengaku telah mencanangkan untuk menggarap pasar ekspor dan menargetkan untuk mengekspor beras sebanyak 1 juta ton di tahun 2026. Ekspor akan dilakukan ke negara-negara sahabat melalui skema pemerintah ke pemetintah atau government-to-government (G-to-G).
Rizal menyebutkan sejumlah negara yang akan menjadi tujuan ekspor beras Perum BULOG diantaranya adalah Timor Leste, Papua New Guinea dan beberapa negara Afrika. Negara-negara tersebut selama ini memang menjadi pelanggan beras impor dan hampir selalu membutuhkan pasokan beras dari luar negeri mengingat volume produksi beras dalam negerinya hampir selalu lebih rendah dari volume kebutuhan domestiknya.
Ekspor bisa menjadi solusi untuk membantu mengatasi persoalan tingginya stok komoditi pangan termasuk beras. Karena, kegiatan ekspor bisa mengurangi biaya penyimpanan beras di gudang dan sekaligus dapat menghindari resiko penurunan mutu beras akibat penyimpanan yang terlalu lama. (YS)












