Gemabisnis.com, JAKARTA – Pertemuan jajaran Asosiasi Petani Karet Indonesia (APKARINDO) dengan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman di Kantor Pusat Kementerian Pertanian Republik Indonesia pada Rabu, 5 November 2025 lalu, masih membawa harapan besar bagi petani karet Indonesia. Pertemuan itu berlangsung hangat, penuh semangat keberpihakan pada petani, dan sarat janji kebijakan: percepatan peremajaan karet, pengelolaan dana perkebunan untuk petani karet, pengaturan harga, hingga hilirisasi karet untuk aspal.
Siaran pers APKARINDO Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Sumatera Selatan menyebutkan dalam pertemuan tersebut, pengurus APKARINDO menegaskan satu pesan utama, yaitu jangan lukai petani karet Indonesia. Pesan ini bukan sekadar retorika, tetapi jeritan dari kebun-kebun tua yang produktivitasnya menurun, dari petani yang bertahan di tengah fluktuasi harga, dan dari desa-desa karet yang selama ini merasa dianaktirikan dalam agenda besar hilirisasi perkebunan.
APKARINDO menyatakan dukungan terhadap Mentan dalam mengawal kebijakan yang pro-petani. Namun dukungan itu disertai sikap tegas, yaitu kebijakan harus turun ke tanah, bukan berhenti di ruang rapat. APKARINDO akan mengawal implementasi di lapangan, memastikan tidak ada permainan, tidak ada mafia tata niaga, dan tidak ada kebijakan yang indah di atas kertas tetapi mandek di desa.
Selanjutnya APKARINDO menyatakan apresiasinya atas respons positif Mentan terkait aspirasi APKARINDO berupa percepatan replanting/peremajaan karet, skema dana perkebunan yang adil untuk petani karet, pengaturan harga agar petani terlindungi dari gejolak pasar, serta hilirisasi karet untuk aspal sebagai pintu masuk industrialisasi karet rakyat. Namun apresiasi tidak berarti berhenti menagih. Petani karet sudah terlalu sering diberi harapan tanpa kepastian.
Sementara itu, dari Sumatera Selatan suara petani karet disampaikan langsung oleh H. Supartijo, Ketua DPW APKARINDO Sumsel, yang turut hadir dalam pertemuan di Jakarta. Pesannya jelas dan lugas, petani karet Sumsel siap untuk peremajaan kebun karet tua di tahun 2026.
Di lapangan, petani telah menyiapkan lahan peremajaan, bibit siap salur dari penangkar, dengan target awal 1.000 ha untuk tahap pertama. “Ini bukan wacana. Ini kesiapan riil. Yang ditunggu petani adalah kehadiran negara berupa dukungan program, anggaran, alat berat (karena tebang-bakar dilarang), pendampingan penyuluh, pupuk bersubsidi, dan integrasi replanting dengan hilirisasi,” tegas Supartijo.
Dia pun menegaskan agar pemerintah selaku pengelola negara tidak mengecewakan petani dengan janji yang menggebu-gebu. Jika negara hadir setengah hati, petani akan kembali berjalan sendiri dan itu berarti kegagalan kebijakan sejak awal.
Aspal Karet, Ujian Keseriusan Hilirisasi
Menurut Sutjipto, hilirisasi karet untuk aspal adalah ujian keseriusan negara. Jika aspal karet benar-benar dijalankan secara konsisten maka serapan karet rakyat meningkat, nilai tambah tinggal di dalam negeri, jalan lebih awet, petani mendapat pasar yang lebih pasti. Namun, jika aspal karet kembali hanya jadi pilot project tanpa keberlanjutan, maka hilirisasi hanyalah slogan.
Sutjipro menggarisbawahi bahwa APKARINDO tidak meminta belas kasihan, namun menagih komitmen negara yang telah disampaikan di depan petani. Replanting karet harus berjalan. Dana perkebunan harus berpihak pada petani karet. Aspal karet harus jadi kebijakan nyata, bukan proyek musiman.
“Petani karet Sumsel sudah siap bergerak di 2026, sebaliknya negara tidak boleh mundur. Jika janji ditepati, petani berdiri di belakang negara. Jika janji diingkari, APKARINDO akan terus bersuara,” pungkas Sutjipto dalam keterangan tertulisnya, Selasa (24/2). (YS)













