Minggu, 11 Oktober 2026
Disusun dan dikurasi oleh Paulus W Broto
ANGGADA LENA
Di Balik Manisnya Madu
Dadhimukha tersungkur, berlumuran darah. Kesadarannya hilang sesaat.
Yang menghantamnya bukan pasukan Rahwana, melainkan Anggada, putra mahkota Kiskenda.
Dalam Sundara Kanda Ramayana Valmiki, benturan itu terjadi di Madhuvana, kebun bermadu warisan keluarga Sugriwa. Dadhimukha, paman raja itu, dipercaya menjaganya.
Rombongan Anggada sedang kembali dari pencarian Sita, istri Rama yang ditawan Rahwana. Hanoman telah menemukannya. Mereka pulang membawa kabar yang ditunggu Rama. Sita belum dibebaskan, tetapi pencarian tidak lagi buntu.
Para wanara—kaum kera sekutu Rama—meminta izin menikmati madu. Setelah mendapat persetujuan para sesepuh, termasuk Jambawan, Anggada mengizinkannya.
Mereka minum hingga mabuk, menyanyi, menari, bertengkar, dan berjatuhan. Buah, bunga, serta madu kebun dirusak dan dihabiskan.
Hanoman menjanjikan akan menghalau siapa pun yang menghalangi mereka. Anggada menyambutnya, dalam terjemahan bebas:
“Sekalipun tidak patut, perkataan Hanoman yang telah menuntaskan tugas harus kuturuti.”
Jasa mulai menjadi alasan melonggarkan batas.
Dadhimukha berusaha menghentikan pesta dengan bujukan, bentakan, juga pukulan. Para penjaga diserang. Ia kemudian membawa pohon sebagai senjata; pengikutnya membawa kayu dan batu. Hanoman bersama para wanara menyongsong mereka.
Anggada menghantam Dadhimukha dan menjatuhkannya ke tanah. Mabuk dan angkuh, ia tidak mengindahkan hubungan keluarga mereka.
Ia memukul orang yang berusaha menjaga batas.
Setelah terlepas, Dadhimukha pergi mengadu kepada Sugriwa. Dalam amarahnya, ia membayangkan raja akan membunuh para perusak. Amanahnya nyata; keinginan membalasnya pun besar.
Sugriwa memintanya bangkit dari sujud dan menyampaikan seluruh kebenaran. Ia mendengar laporan kerusakan, lalu menangkap kabar lain: rombongan tidak akan berani berpesta demikian apabila pencarian gagal. Sita pasti ditemukan.
Rama dan Laksmana bergembira. Sugriwa memaafkan perbuatan rombongan karena keberhasilan itu dan meminta mereka segera datang.
Dadhimukha menerima keputusan tersebut dengan gembira. Ia kembali, merapatkan kedua tangan, lalu berbicara lembut kepada Anggada. Dalam terjemahan bebas:
“Engkau putra mahkota dan penguasa kebun ini. Maafkan kesalahan kami.”
Penjaga yang terluka justru meminta maaf kepada orang yang memukulnya.
Anggada kemudian mengatakan kepada rekan-rekannya bahwa ia tidak ingin memperlakukan mereka sewenang-wenang. Mereka memuji kerendahan hatinya.
Perkataan itu ditujukan kepada rekan seperjuangan, bukan permintaan maaf kepada Dadhimukha.
Rombongan berangkat. Hanoman menyerahkan perhiasan titipan Sita kepada Rama. Keberhasilan itu sungguh ada. Luka penjaga juga nyata. Dalam rangkaian adegan ini, pemulihan penjaga dan penggantian kerusakan tidak diceritakan.
Pengampunan dapat menghentikan pembalasan. Luka dan kerugian tetap meminta pemulihan.
Dalam cermin ini, lena menyelinap ketika kenyamanan dan keberhasilan mengendurkan kewaspadaan. Yang memabukkan tidak hanya madu: pujian, kedudukan, serta keyakinan bahwa kita telah banyak berjasa.
Menyebutnya lena tidak meringankan tanggung jawab. Kelalaian, pembiaran, dan tindakan sengaja merugikan harus diperiksa menurut perbuatannya. Jasa tidak perlu dihapus untuk mengakui kesalahan; kesalahan tidak menjadi benar karena pelakunya pernah berjasa.
Madhuvana adalah kebun warisan raja. Kekayaan publik dalam kehidupan bangsa berbeda: ia bukan milik pribadi pemegang jabatan. Pengampunan pribadi tidak boleh menggantikan pertanggungjawaban atas hak warga.
Dalam program gizi, koperasi desa, maupun pengadaan BUMN, tujuan baik membutuhkan pelaksanaan yang dapat diperiksa. Petugas yang menolak bahan tidak layak sedang menjaga orang yang akan memakannya. Pemeriksa harga menjaga uang yang dipercayakan. Anggota koperasi berhak mengetahui penggunaan uang dan kewajibannya.
Keberhasilan tidak boleh membungkam keluhan. Dugaan penyimpangan tidak membenarkan penghukuman seluruh pelaksana. Buktikan yang dipersoalkan, lindungi yang bekerja benar, dan tuntaskan akibatnya. Jasa maupun nama keluarga tidak memberikan kekebalan.
Cermin itu menghadap kepada saya.
Mungkin saya mudah menyebut aturan penting, sampai aturan itu membatasi orang dekat—atau diri saya sendiri. Teguran lalu terasa seperti serangan. Padahal orang itu mungkin sedang menjaga sesuatu yang dipercayakan kepada saya.
Keberaniannya melapor patut dilindungi; kejanggalan yang dibawanya perlu diperiksa.
Saya tetap ingin mempercayai manusia. Kepercayaan itu perlu ditopang tugas yang jelas, pencatatan yang dapat diperiksa, dan perlindungan bagi pembawa laporan. Izin serta pembiaran saya sendiri juga harus diperiksa.
Pengawasan bukan kesempatan membalas. Luka jangan membuat saya menginginkan hukuman berlebihan, seperti amarah Dadhimukha. Bila kesalahan terbukti, pulihkan kerugian dan benahi cara kerja. Bila tuduhan tidak terbukti, perbaiki penilaian.
Dalam Serat Kalatidha, Ranggawarsita menggambarkan kegelisahan zaman edan: ikut, hati tidak tahan; tidak ikut, takut tidak mendapat bagian. Pada bait ketujuh, ia mengingatkan:
“Begja-begjane kang lali,
luwih begja kang eling lawan waspada.”
Seberuntung-beruntungnya orang yang lupa, lebih beruntung orang yang tetap ingat dan waspada.
Bagi saya, eling berarti mengingat Gusti, amanah, dan batas diri. Keberhasilan tidak membuat saya berhak atas semuanya. Orang yang menjaga batas bukan otomatis musuh kegembiraan saya.
Waspada berarti menjaga kejernihan terhadap godaan di luar dan pembenaran di dalam. Jangan teliti memeriksa orang lain, tetapi lengah terhadap orang dekat atau diri sendiri.
Ketidakpatutan yang terasa biasa tetap dapat saya tolak. Kekeliruan yang saya sadari menuntut tindakan: berhenti, memperbaiki akibat, dan menerima koreksi. Hamemayu Hayuning Bangsa tumbuh ketika kecakapan menghasilkan manfaat dan kewenangan melindungi kehidupan.
Anggada berangkat membawa kabar baik. Dadhimukha telah merapatkan kedua tangan untuk meminta maaf kepadanya.
Kita boleh bersukacita karena Sita ditemukan. Jangan sampai kegembiraan membuat kita lupa kepada orang yang terluka.
Ketika keberhasilan membuatku merasa pantas mendapat kelonggaran, apakah aku masih bersedia dihentikan oleh orang yang menjaga batas?








