Minggu, 1 November 2026
Disusun dan dikurasi oleh Paulus W Broto
RAMA MENANYAI BHARATA
Sudahkah Ilmumu Berbuah?
Bharata jatuh sebelum mencapai kaki Rama.
Ia memanggil kakaknya, tetapi tangis menahan kata-kata berikutnya.
Rama meraih lengannya. Tubuh adiknya kurus, wajahnya pucat. Ia memeluk Bharata dan memangkunya.
Dalam Ayodhya Kanda Ramayana Valmiki, Rama menjalani pengasingan atas titah ayah mereka, Raja Dasarata. Takhta diperuntukkan bagi Bharata. Namun adiknya datang ke hutan membawa duka.
Rama bertanya apakah ayah mereka masih hidup. Bagaimana keadaan ibu-ibu mereka? Apakah para guru tetap dihormati?
Pertanyaan kemudian menjangkau orang-orang yang jauh dari perjumpaan itu: penasihat, pasukan, petani, dan pencari keadilan.
Ia menanyakan penempatan orang sesuai kemampuan. Seorang penasihat cakap lebih berguna daripada banyak orang yang tidak mampu memberikan pertimbangan.
Dalam terjemahan bebas, pertanyaan-pertanyaannya antara lain:
“Apakah engkau menempatkan orang yang bersih dan tidak dapat disuap dalam pekerjaan penting?”
Kecakapan perlu berjalan bersama kejujuran. Namun orang yang bertugas juga mempunyai kebutuhan.
“Apakah bekal dan upah pasukan diberikan pada waktunya, tanpa penundaan?”
Rama mengingatkan bahwa keterlambatan dapat membuat pasukan marah kepada pemimpinnya. Ia juga menanyakan penghidupan petani dan pemelihara ternak: apakah kebutuhan mereka dibantu dan kesulitan mereka dikurangi?
Kemudian tentang keadilan: apakah orang yang dituduh keliru dihukum tanpa pemeriksaan, sementara pencuri yang tertangkap dengan bukti justru dilepaskan demi keuntungan? Apakah perkara antara orang kaya dan miskin diperiksa tanpa memihak?
Air mata korban tuduhan palsu pun masuk dalam peringatannya kepada penguasa.
Ia memeriksa pengelolaan pemasukan dan pengeluaran, mengingatkan ketidakjujuran, kemarahan, kemalasan, serta pekerjaan yang terus ditunda. Kemudian ia bertanya:
“Apakah pengetahuanmu telah berbuah?”
Sesudah rangkaian pertanyaan itu, Bharata menyampaikan kabar kematian Dasarata dan memohon agar Rama menerima kerajaan. Rama memeluknya, menyatakan tidak menemukan kesalahan pada adiknya, namun tetap berpegang pada titah pengasingannya.
Kehangatan dan pemeriksaan amanah hadir dalam perjumpaan yang sama. Pertanyaan yang tegas tidak harus merendahkan manusia.
Bagi saya, pertanyaan tentang buah pengetahuan itu belum selesai.
Minggu ini, saya menghadiri lepas sambut rektor UPN “Veteran” Yogyakarta. Teman sekelas saya menerima amanah baru. Pikiran saya menuju anak-anak muda yang datang membawa harapan.
Reuni empat puluh tahun ITB ’86 dan refleksi Sumpah Pemuda memperbesar pertanyaan yang sama: manusia seperti apa yang telah kita bentuk, termasuk diri sendiri?
Saya mengharapkan manusia yang cakap membangun, jujur ketika dipercaya, dan tidak mengambil yang bukan haknya meskipun kesempatan terbuka.
Kejujuran perlu dialami: penilaian yang adil, guru yang mengakui kekeliruan, serta ruang menyampaikan bukti berbeda. Calon insinyur perlu berlatih menghadapi tekanan mengubah hasil pengujian. Calon pengelola perlu belajar mengakui kerugian tanpa menyembunyikannya dalam laporan.
Keberanian mereka harus ditopang teladan dan perlindungan. Jangan biarkan orang muda menanggung seluruh akibat kejujurannya sendirian.
Bila kejujuran diajarkan tetapi laporan dipoles demi nama baik lembaga, pelajaran mana yang sebenarnya diberikan?
Pendidikan juga berlangsung dalam keputusan pejabat, pengusaha, dan orang tua. Jangan menuntut generasi muda berintegritas sambil memberi pengecualian kepada diri sendiri.
Hamemayu Hayuning Bangsa meminta ilmu dan kewenangan dipakai untuk merawat kehidupan. Cermin itu tidak membiarkan saya berdiri di luar.
Di usaha daur ulang plastik yang saya dirikan di Kabupaten Serang, sekitar seratus orang memperoleh pekerjaan. Mayoritas pekerja tidak memiliki bekal pendidikan formal; sebagian sebelumnya bergantung pada pekerjaan buruh tani musiman.
Mereka belajar memilah botol plastik bekas, dilatih dan didampingi sampai hasilnya memenuhi kebutuhan perusahaan. Saya melihat keterampilan mereka bertambah. Hasil yang memenuhi mutu membuka peluang penghasilan borongan lebih baik.
Mereka bertumbuh melalui laku. Tetapi laporan keuangan usaha ini masih menunjukkan kerugian.
Saya meminta pekerja semakin teliti. Saya pun harus semakin teliti membeli bahan, mengatur produksi, menjual hasil, dan menjaga keuangan. Perusahaan wajib menjaga ketepatan timbangan, kejelasan tarif, serta pembayaran.
Saya datang dan menginap di pabrik untuk membantu pembenahan. Tujuannya agar kemampuan tumbuh pada pengelola dan pekerja, sehingga pekerjaan tidak hanya berjalan ketika saya hadir.
Bukan hanya mereka yang sedang belajar. Saya juga.
Keuntungan diperlukan agar penghidupan itu bertahan. Jangan memperolehnya dengan memindahkan seluruh beban kepada pekerja. Niat menolong pun tidak membebaskan saya dari kewajiban mengelola dengan cakap.
Setiap hari saya menyerukan pembebasan bangsa dari kebodohan dan kemiskinan. Seruan itu perlu diuji melalui kehidupan yang saya sentuh.
Tabel hasil sortir menunjukkan kilogram. Ia belum menjelaskan seluruh kehidupan pekerja. Saya masih perlu mendengar apa yang mereka rasakan, kehendaki, dan usahakan. Mereka harus aman mengatakan bahwa cara saya belum tepat.
Manunggal rasa, karsa, dan karya meminta kita mendengarkan, menyepakati tujuan secara adil, lalu bekerja dan memeriksa hasil bersama.
Pembenahan watak perlu ditopang aturan, keterbukaan, dan konsekuensi yang adil. Orang jujur jangan disisihkan; orang cakap tidak kebal diperiksa. Mulailah dengan menjaga data, membuka pengelolaan anggaran, mengakui kontribusi orang lain, serta memperbaiki kesalahan. Bedakan kekeliruan yang jujur dari pemalsuan yang disengaja.
Di hutan, Rama memangku Bharata yang berduka. Pertanyaan tentang ilmu menjangkau upah, penghidupan, dan keadilan.
Setelah semua ilmu, pengalaman, dan kepercayaan yang saya terima, apakah saya menjadi lebih mampu menghidupi sesama—atau hanya lebih pandai membesarkan diri?








