Minggu, 8 November 2026
Disusun dan dikurasi oleh Paulus W Broto
Rahwana mencabut pedangnya.
Marica menyembah, memohon agar dibiarkan hidup.
Dalam Kakawin Ramayana, wajah sang raja merah, tubuhnya berkeringat, kumisnya bergetar. Pedang itu diarahkan kepada orang yang baru saja memperingatkannya tentang bahaya.
Rahwana, raja Alengka, hendak menculik Sita, istri Rama. Ia membutuhkan Marica, raksasa yang mampu mengubah rupa.
Marica mengenal kekuatan Rama. Dulu, ketika menyerang pertapaan, ia dipukul mundur oleh panahnya. Ia sendiri mempunyai riwayat kekerasan. Kini pengalaman itu membuatnya meminta Rahwana mengurungkan rencana.
Nasihatnya dibalas dengan tuduhan berkhianat. Mengapa ia memuji kekuatan Rama dan tidak memuji rajanya sendiri?
Marica tetap menyatakan pengabdiannya. Ia memberi nasihat karena menghendaki kebaikan orang yang dilayaninya. Mengingatkan adalah bagian dari kesetiaannya.
Valmiki menuturkan pemaksaan itu dengan tekanan berbeda dalam Aranya Kanda. Rahwana mengatakan, dalam terjemahan bebas:
“Aku tidak meminta pertimbanganmu.”
Yang dimintanya ialah bantuan. Marica harus menjadi kijang emas, memikat Sita, dan membawa Rama menjauh. Kemudian ia harus menirukan suara Rama, memanggil Sita dan Laksmana, agar Laksmana turut meninggalkan pertapaan. Rahwana akan mengambil Sita.
Setengah kerajaan ditawarkan jika pekerjaan berhasil. Jika menolak, Marica akan dibunuhnya. Menurut Rahwana, mati di tangan Rama masih kemungkinan; mati karena menolak perintahnya adalah kepastian.
Rahwana berbicara pula tentang kemuliaan raja dan adab penasihat. Kata-kata harus halus dan menjaga kehormatan penguasa. Tetapi rencana menculik Sita sudah diputuskan. Ia menginginkan kecakapan Marica untuk melaksanakannya.
Marica masih mencoba mencegahnya. Ia memperingatkan bahwa akibatnya akan menjangkau keluarga, para pembantu, dan kerajaan. Ia juga mempersoalkan para penasihat yang membiarkan rajanya menuju kehancuran.
Akhirnya Marica menyatakan akan pergi. Namun ia masih berkata, dalam terjemahan bebas:
“Jika Rama melihatku kembali, habislah hidupku.”
Mendengar kesediaan itu, Rahwana gembira. Dalam versi Valmiki ini, ia memeluk Marica erat-erat.
Saya berhenti pada pelukan itu.
Marica sudah mengatakan bahwa nyawanya akan hilang. Ia dirangkul setelah bersedia berangkat menuju bahaya yang telah diperingatkannya. Orang yang mencoba mencegah rencana itu kini harus menjalankannya.
Marica berubah menjadi kijang emas. Sita terpikat; Rama memburunya. Laksmana sudah mencurigai kijang itu sebagai tipu daya.
Ketika panah Rama menembus tubuhnya, Marica masih menirukan suara Rama, memanggil Sita dan Laksmana. Sita mengira suaminya dalam bahaya dan mendesak Laksmana menyusul. Laksmana berusaha menenangkannya, tetapi akhirnya meninggalkan pertapaan.
Marica mati. Rahwana kemudian menculik Sita yang tinggal sendiri.
Saya teringat nuansa House of Cards yang pernah saya tonton: hubungan antarmanusia dipenuhi perhitungan tentang siapa diperlukan, siapa mengetahui sesuatu, dan siapa harus dibuat menurut. Kegelisahan itu terasa ketika membaca berita Indonesia pekan ini.
Pada 5 November, polisi menyebut empat tersangka perkara dugaan penyadapan. Mantan Kapolri Listyo Sigit Prabowo, Ahrie Sonta, dan Eko Hadi Santoso ditahan; Slamet Uliandi belum ditahan karena kondisi kesehatan, menurut polisi.
Penyidik menduga sistem Polri digunakan tanpa prosedur yang dipersyaratkan untuk menyasar komunikasi Presiden Prabowo dan sejumlah kalangan, termasuk jurnalis serta pengusaha. Pemberi perintah, tujuan, dan pemanfaat hasilnya harus dijernihkan melalui pembuktian. Para tersangka tetap berhak menjawab.
Saya gelisah membayangkan kemampuan negara yang begitu besar dapat membuat warga takut kepada penjaganya sendiri. Orang yang memegang alat untuk membuka kehidupan sesama perlu mempunyai batas, dan tindakannya harus dapat diperiksa.
Penggunaan alat negara perlu meninggalkan catatan: siapa memerintah, siapa memberi izin, dan siapa memakai hasilnya. Pemeriksa perlu cukup bebas untuk menguji keputusan itu. Orang yang diduga menjadi sasaran harus dilindungi, termasuk data pribadinya.
Memayu hayuning bangsa dan memayu hayuning bawana dapat dimulai dari kesediaan mendengar peringatan yang mencoba mencegah kerusakan. Yang sedang dijaga mungkin kehidupan orang-orang yang belum kita kenal.
Cermin itu juga menghadap saya.
Saya memegang kewenangan dalam usaha. Orang-orang yang bekerja bersama saya mempunyai kebutuhan hidup dan keluarga. Bila mereka hanya membawa kabar baik, apakah masalah memang sudah selesai, atau mereka belum merasa aman membawa kabar buruk?
Apakah saya sungguh mendengar ketika sebuah laporan tidak sesuai harapan? Masih adakah kesempatan mengubah keputusan setelah seseorang menunjukkan kekeliruannya?
Mudah meminta orang lain berani menjadi Marica. Bagi seorang pekerja, menyampaikan keberatan kepada atasan dapat berarti mempertaruhkan penghasilan yang menopang keluarganya. Keberanian perlu ditopang perlindungan.
Di tempat kita memimpin, mulailah dengan mendengar sampai selesai. Jangan permalukan orang yang membawa keberatan. Libatkan pemeriksa yang cukup bebas untuk berbeda pendapat. Perintah yang berisiko melanggar hak perlu dapat diperiksa sebelum dijalankan. Dalam urusan negara, pelapor perlu dilindungi.
Sesudah orang berbicara, berikan jawaban: apa yang diterima, apa yang diperbaiki, dan siapa yang memeriksanya. Orang akan menilai kesungguhan kita dari apa yang dialaminya setelah berani jujur.
Saya kembali teringat Marica yang menyembah di hadapan pedang. Ia telah menyampaikan apa yang diketahuinya. Rahwana masih mempunyai kesempatan untuk mendengar.
Apakah orang merasa aman menyampaikan kebenaran kepadaku?










