Gemabisnis.com, JAKARTA–Rohana dan Rojali tengah jadi bahan omongan di masyarakat. Keduanya dituduh menjadi pemicu menurunnya omset tenant (pemilik gerai) di pusat perbelanjaan-pusat perbelanjaan.
Rohana datang ke pusat perbelanjaan atau mal cuma nanya-nanya aja. Hampir mirip dengan Rohana, Rojali sering datang ke mal tapi jarang beli barang yang ada di mal.
Karena keberadaan Rohana alias rombongan hanya nanya-nanya dan Rojali atau singkatan dari rombongan jarang beli, terjadi kondisi dimana banyaknya pengunjung di mal tidak berbanding lurus dengan pendapatan gerai-gerai di mal tersebut.
Para pekerja atau pemilik gerai pun merasa ‘sebal’ dengan Rohana dan Rojali karena sudah capek menjawab pertanyaan Rohana dan Rojali tetapi ujung- ujungnya keduanya tidak jadi beli produk mereka.
Dalam kondisi seperti itu, pantaskah Rohana dan Rojali dipersalahkan? Kita tahu kalau mal bukan hanya melulu tempat berbelanja. Mal juga menjadi tempat berinteraksi sosial dan hiburan. Karena itu di mal ada bioskop, tempat bermain anak dan tempat sekadar kongkow-kongkow dengan sahabat atau rekan lainnya.
Penjualan produk di gerai di mal-mal juga bersifat konvensional atau offline. Pembeli pasti melakukan interaksi dengan penjual terlebih dulu sebelum membeli. Mulai dari kegunaan produk itu, ukuran, dan harga. Jika salah satu kriteria itu tidak terpenuhi, Rohana atau Rojali mungkin tidak akan membeli.
Mana mungkin Rohana atau Rojali mau membeli sepatu jika ukuran kaki mereka adalah 40 tetapi sepatu yang ada di gerai hanya untuk ukuran 38. Buang-buang uang itu namanya.
Dalam kondisi ekonomi yang sedang melemah, kabar PHK yang terus terjadi dan jumlah penduduk miskin yang masih tinggi, semua kelas masyarakat akan melakukan pengetatan dalam kegiatan belanja. Mereka akan menerapkan skala prioritas terhadap barang yang akan dibeli.
Mereka juga akan membandingkan harga dan kualitas produk di pasar kovensional dengan harga produk yang dijual secara modern dengan sistem online.
Jadi, jangan salahkan Rohana dan Rojali jika pendapatan gerai di mal mengalami penurunan seperti sekarang ini. Tidak semua orang mau disebut anggota Rohana atau Rojali. Masyarakat yang tergabung dalam Rohana dan Rojali juga menjadi korban dari kondisi ekonomi yang terjadi di negeri ini.
Jika saja kondisi ekonomi melesat, lapangan kerja terbuka lebar, jumlah penduduk miskin menurun tajam, tentu Rohana dan Rojali akan menyingkir dari mal-mal.
Selain itu, Rohana dan Rojali juga akan menyingkir jika produk atau barang yang dijual di gerai-gerai di mal harganya mampu bersaing dengan harga yang ditawarkan oleh pedagang online. Ini hal yang sulit dipenuhi pedagang di mal.BNW











