Gemabisnis.com, JAKARTA – Kinerja ekspor karet alam asal Sumatera Utara (Sumut) pada Februari 2026 menunjukkan perbaikan terbatas di tengah tekanan permintaan global yang masih lemah. Total volume ekspor tercatat sebesar 18.661 ton, meningkat tipis dibandingkan Januari 2026 yang sebesar 18.467 ton, atau tumbuh 1,05% secara month-to-month (MoM).
Namun demikian, Sekretaris Eksekutif Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (GAPKINDO) Sumut, Edy Irwansyah mengatakan secara tahunan, kinerja masih mengalami kontraksi, di mana volume Februari 2026 lebih rendah dibandingkan Februari 2025 yang mencapai 20.659 ton, atau turun 9,67% year-on-year (YoY).
Menurut Edy, meskipun terdapat kenaikan bulanan, capaian ini masih mencerminkan kondisi ekspor yang relatif stagnan dan jauh dari level normal historis yang dapat mencapai sekitar 42.000 ton/bulan. Hal ini menunjukkan bahwa pemulihan permintaan global terhadap karet alam masih berlangsung secara bertahap dan belum merata.
Dari sisi pasar tujuan ekspor, lanjut Edy, ekspor karet Sumut pada Februari 2026 masih didominasi oleh negara-negara utama, yaitu Jepang (30,06%), Amerika Serikat (22,95%), China (10,18%), Brasil (9,07%), serta Korea Selatan (3,35%). Menariknya, Korea Selatan yang umumnya berada di luar lima besar—bahkan sering berada di peringkat di atas 10 dan sesekali di posisi ke-7—kali ini masuk dalam jajaran top 5, mengindikasikan adanya peningkatan permintaan dari industri hilirnya, khususnya sektor ban dan manufaktur berbasis karet, yang kemungkinan terkait dengan kebutuhan blending antara karet alam dan sintetis.
Total ekspor karet Indonesia ke kawasan Uni Eropa pada Februari 2026 tercatat sebesar 13,5% dari total ekspor (sekitar 2.420 ton) yang tersebar ke 11 negara tujuan, dengan rincian kontribusi masing-masing negara terhadap grand total yaitu Italia 2,6%, Jerman 2,2%, Perancis 2,1%, Spanyol 1,6%, dan Rumania 1,6% sebagai lima negara utama, diikuti Belgia 1,5%, Luksemburg 0,6%, Slovenia 0,6%, Polandia 0,4%, Bulgaria 0,2%, serta Belanda 0,1%, yang menunjukkan bahwa kontribusi Uni Eropa cukup signifikan secara agregat namun tersebar luas tanpa dominasi kuat dari satu negara tertentu.
Edy mengatakan beberapa faktor utama yang masih menekan kinerja ekspor antara lain adalah permintaan global yang belum pulih sepenuhnya, terutama dari industri otomotif dan manufaktur, serta adanya penundaan pengapalan (delay shipment) akibat kendala jadwal kapal yang dipengaruhi oleh dinamika logistik global, termasuk gangguan jalur pelayaran di kawasan strategis seperti Selat Hormuz. Di sisi lain, pasokan karet alam dari Sumut juga masih terbatas seiring dengan musim gugur daun (wintering) yang menyebabkan penurunan produksi di tingkat kebun.
Di tengah kondisi tersebut, tambah Edy, harga karet justru menunjukkan penguatan yang signifikan. Rata-rata harga pada Februari 2026 tercatat sebesar US$193,76 sen/kg, meningkat US$9,49 sen dibandingkan Januari. Tren penguatan ini berlanjut hingga akhir Maret, dengan harga penutupan pada 27 Maret 2026 mencapai US$200,3 sen/kg. Kenaikan harga ini tidak terlepas dari dinamika global, termasuk krisis energi yang mendorong kenaikan biaya produksi karet sintetis berbasis petrokimia, sehingga meningkatkan daya tarik karet alam sebagai substitusi.
Edy menyimpulkan secara keseluruhan, meskipun harga menunjukkan tren positif, kinerja ekspor karet Sumut masih berada dalam fase konsolidasi. Kombinasi antara permintaan global yang belum optimal, gangguan logistik, serta keterbatasan pasokan akibat faktor musiman menjadi tantangan utama dalam jangka pendek. Namun demikian, penguatan harga dan mulai munculnya permintaan dari pasar non-tradisional seperti Korea Selatan memberikan sinyal awal adanya potensi perbaikan pasar ke depan. (YS)











