Gemabisnis.com, JAKARTA – Daikin Grup melalui PT Daikin Industries Indonesia menginvestasikan Rp 3,3 triliun untuk membangun pabrik pendingin ruangan (air conditio/AC) di GIIC Industrial Parks Bekasi, Jawa Barat, demikian siaran pers Kementerian Perindustrian, Sabtu (3/8).
PT Daikin Industries Indonesia rencananya akan mulai memproduksi AC rumah tangga pada semester II-2024. Dengan nilai investasi Rp3,3 triliun tersebut Daikin akan memiliki pabrik AC dengan kapasitas produksi 1,5 juta unit/tahun. Melalui investasi ini, diperkirakan Daikin mampu menyerap tenaga kerja sebesar 1.600-2.500 orang.
Kegiatan investasi Daikin tersebut disampaikan Direktur PT. Daikin Airconditioning Indonesia menemui Menperin Agus Gumiwang Kartasasmita pada Rabu (31/8) lalu dan menyampaikan rencana bisnis Daikin di Indonesia. Saat ini, sejumlah perusahaan dari PT. Daikin Global di Indonesia yang telah melakukan produksi, yaitu PT. Daikin Manufacturing Indonesia dengan produksi AC tipe ducting (lebih dari 5 HP) dan Air Handling Units (AHU).
Sejalan dengan investasi AC dari Daikin tersebut, Menperin menyampaikan bahwa Indonesia memiliki potensi pasar yang sangat besar untuk produk AC, baik untuk rumah tangga maupun AC komersial. Terlebih lagi Daikin merupakan merek besar dengan predikat market leader untuk pasar AC di Indonesia. Tentu hal ini menjadi langkah yang tepat bagi Daikin maupun brand besar lain untuk segera menanamkan modal dan berproduksi di Indonesia.
“Sebuah langkah yang sangat tepat bagi Daikin, yang notabene merupakan market leader produk AC di Indonesia untuk berinvestasi di dalam negeri. Saya mendorong agar brand besar lainnya dapat mengikuti gerakan Daikin untuk segera memiliki fasilitas produksi di Indonesia baik untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri maupun pasar ekspor,” papar Agus.
Sementara itu Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin, Taufiek Bawazier menegaskan tentang keseriusan Kemenperin dalam hal menjaga iklim investasi baru agar tetap berkembang dan mampu menyeimbangkan trade balance sektor elektronika. “Target ini dapat dilakukan melalui salah satu instrumen berupa Neraca Komoditas (NK) untuk produk-produk elektronika termasuk AC yang akan diimplementasikan di tahun mendatang,” ujarnya. (YS)













