• Home
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Pemberitaan
  • Kode Etik
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
Kamis, April 16, 2026
GemaBisnis.com - Bersama Membangun Bangsa
  • Home
  • Hot News
  • Bursa Komoditi
  • Energi & Pertambangan
  • Kehutanan & Lingkungan
  • Perkebunan
  • Peternakan
  • Lainnya
    • Perikanan
    • Pangan
    • Hortikultura
    • Manufaktur
    • Opini
    • Umum
    • Ekbis
    • Profil
No Result
View All Result
  • Home
  • Hot News
  • Bursa Komoditi
  • Energi & Pertambangan
  • Kehutanan & Lingkungan
  • Perkebunan
  • Peternakan
  • Lainnya
    • Perikanan
    • Pangan
    • Hortikultura
    • Manufaktur
    • Opini
    • Umum
    • Ekbis
    • Profil
No Result
View All Result
GemaBisnis.com - Bersama Membangun Bangsa
No Result
View All Result

Industri Sebagai Mesin Pencetak Pendapatan Nasional

Oleh: Fauzi Aziz, Pemerhati Ekonomi dan Industri

Admin by Admin
Juli 25, 2022
0

Foto: Pribadi

0
SHARES
113
VIEWS
Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke WhatsApp

PERTAMA, industri disebut sebagai penggerak utama ekonomi karena ia adalah sebagai mesin pencetak pendapatan nasional. Sejak dibangun dengan menempatkan modal, teknologi, dan dukungan public policy, industri hadir sebagai kekuatan ekonomi pencetak income and profit.

Sebab itu, industri harus beroperasi  efisien sebagai pusat produktifitas sehingga minimal ekosistem pembentuknya harus  berbiaya rendah. Di antaranya biaya investasi dengan cost of fund yang rendah, biaya proses yang paling efisien, biaya logistik yang kompetitif, dan biaya transaksi yang bersaing. Ini syarat yang harus bisa dipenuhi, sehingga ketika masuk dalam institusi pasar, setiap industri yang hadir memiliki kesempatan pertama untuk menjadi pemimpin pasar agar nilai portofolio bisnisnya meningkat.

KEDUA, apa makna dibalik pola pikir itu? Satu jawaban yang pasti karena jika syarat-syarat tersebut tidak bisa dipenuhi, maka industri akan menjadi tidak optimal pertumbuhannya karena lingkungannya sangat high cost. Akhirnya sulit diharapkan dapat menjalankan fungsinya sebagai mesin pencetak pendapatan nasional.

BacaJuga

Penggeledahan Kantor Kementerian PU, Dimulainya Babak Baru Penyelidikan

Isu Deep State Mengemuka, Pakar: Jangan Tutupi Masalah Tata Kelola

Lingkungan ekonomi dan bisnis yang high cost tentu tidak begitu menarik investor untuk menanamkan modalnya di sektor industri yang sifat investasinya berjangka panjang. Terlalu sayang untuk bakar uang pada bidang usaha yang imbal hasilnya rendah,dan high cost serta high risk karena biaya investasinya relatif mahal.

Angka ICOR di Indonesia pada kisaran 5-6. Angka-angka makro industri menjawab asumsi tersebut, misal kontribusi industri terhadap PDB rendah, hanya sekitar 20%.pertumbuhannya juga rendah, yang sejak krisis 1997/1998 tidak pernah di atas pertumbuhan ekonomi. Misal jika pertumbuhan ekonomi rata-rata per tahun 5%, maka pertumbuhan industri hanya sekitar 4-4,5%

KETIGA, kini industri tumbuh di bawah tekanan akibat pelambatan ekonomi global. Secara eksternal penyebabnya karena inflasi global, gangguan rantai pasok akibat perang Rusia-Ukraina. Persoalan di internal adalah high cost economy. Berarti kena pukulan dua kali. Industri berarti harus membayar mahal atas situasi itu. Wajar bila industri umumnya meminta pembebasan/keringanan pajak untuk mengkompensasi atas beban biaya produksi langsung dan biaya produksi tidak langsung yang tinggi akibat high cost. Pemerintah bisa menikmati pajak yang dibayar industri, misal PPN, atau sejumlah PPh yang dipungut di depan, meskipun PPh badan belum tentu bisa ditarik karena perusahaan industri mengalami kerugian usaha.

KEEMPAT, situasi itu menjadi semakin menarik untuk di dalami karena distribusi nilai tambah mengalami trade off. Haknya pemerintah sudah bisa ditarik sebagai pendapatan, haknya pekerja juga harus dibayarkan tiap bulan, termasuk BPJS ketenagakerjaan. Sedangkan haknya investor belum tentu  bisa dibayar karena tidak ada pembagian deviden. Pembentukan dana cadangan untuk re-investasi atau untuk keperluan lain belum tentu juga dapat disisihkan. Jika semua kewajiban harus diselesaikan pada satu waktu bersamaan, maka beban cash flow akan berat. Karena kebutuhan belanja operasional tidak bisa ditunda maka mau tidak mau cash flow perusahaan harus terjaga dengan cara menarik working capital dari bank untuk menjaga likuiditas perusahaan yang suku bunganya relatif tinggi.

KELIMA, jika faktor-faktor tersebut kita anggap sebagai masalah, maka kita harus mengatasinya ketika industri dituntut untuk tumbuh dan tangguh. Saatnya kita harus mulai ngulik ke persoalan-persoalan makro industri /mikro industri karena disitulah dapat kita temukan problem industri dan bisnis yang sebenarnya. Persoalan makro kita menghadapi trade off pertumbuhan rendah Pada persoalan mikro kita menghadapi trade off biaya dan manfaat. Problem ini bisa dilacak oleh tenaga – tenaga profesional analis data dan analis kebijakan. Soal pertumbuhan rendah bisa dilacak melalui analisis indeks kontribusi industri terhadap pemenuhan kebutuhan pengeluaran belanja konsumen, investasi, belanja pemerintah dan ekspor,maupun kontribusi industri dalam global value chain.

KEENAM, semua pembenahan itu pada akhirnya akan membantu menekan beban industri sebagai mesin pencetak pendapatan dan profit. Karena itu, pembenahannya bisa dilakukan melalui pendekatan makro industri maupun mikro industri.

Sebagai mesin pencetak pendapatan nasional dan profit, maka industri harus menjadi penyumbang terbesar penerimaan devisa hasil ekspor, peningkatan kemampuan daya beli masyarakat, pendapatan perusahaan untuk dibagi dalam bentuk dividen dan dana cadangan, serta menyumbang penerimaan pajak.

PNBP yang dipungut oleh berbagai Kementrian/Lembaga agar dibatasi karena berpotensi menimbulkan beban high cost. Penulis berpendapat bahwa distribusi nilai tambah yang menjadi haknya pemerintah dalam bentuk pajak dan PNBP serta retribusi daerah harus dibatasi setinggi – tingginya komulatif 15% terhadap PDB industri atau 20% terhadap PDB ekonomi. Selebihnya sekitar 80-85% yang menjadi haknya investor, perusahaan dan masyarakat tidak diganggu gugat.

Pada aspek yang lain konsep low cost economy akan memberikan kesempatan bagi industri dapat memberikan kontribusi maksimal pada pembentukan surplus neraca perdagangan dan surplus neraca transaksi berjalan serta kontribusi dalam global value chain sehingga industri pada akhirnya dapat berkontribusi terhadap stabilitas nilai tukar mata uang rupiah terhadap dolar AS maupun valas lain yang kuat.

Kerjasama investasi, industri dan perdagangan dengan sejumlah negara harus diupayakan dapat menghasilkan surplus pada kedua neraca tersebut dan kontribusi yang optimal  pada global supply chain.

Tags: Fauzi Azizindustri nasionalindustri penggerak pembangunaninvestasi industriKementerian Perindustrianpertumbuhan industri
Previous Post

VKTR, Tambang Nikel Sulteng (TNS) Kerja Sama Pasokan Bijih Nikel

Next Post

Banua Industrial Centre Jadi Rumah Inovasi di Kalsel dan Kalteng

Admin

Admin

Related Posts

Hot News

Penggeledahan Kantor Kementerian PU, Dimulainya Babak Baru Penyelidikan

by Admin
April 10, 2026
0

Gemabisnis.com, JAKARTA - Tim penyidik Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta mendatangi kantor Kementerian Pekerjaan Umum (PU) di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan,...

Read more

Isu Deep State Mengemuka, Pakar: Jangan Tutupi Masalah Tata Kelola

April 1, 2026
Pembayaran Royalti Musik, Pelaku Usaha Untung, Konsumen Buntung

Pembayaran Royalti Musik, Pelaku Usaha Untung, Konsumen Buntung

Agustus 14, 2025
Presiden Prabowo, Presiden Putin Saksikan Pertukaran MoU Kemitraan Strategis Indonesia-Rusia

Presiden Putin Apresiasi Peningkatan Kerjasama Indonesia-Rusia

Juni 20, 2025
Presiden Prabowo, Presiden Putin Saksikan Pertukaran MoU Kemitraan Strategis Indonesia-Rusia

Presiden Prabowo, Presiden Putin Saksikan Pertukaran MoU Kemitraan Strategis Indonesia-Rusia

Juni 20, 2025
Next Post
Banua Industrial Centre Jadi Rumah Inovasi di Kalsel dan Kalteng

Banua Industrial Centre Jadi Rumah Inovasi di Kalsel dan Kalteng

BERITA TERBARU

Pemkot Jakarta Timur Gencarkan Pilah Sampah dari Kantor, Munjirin Minta ASN Jadi Contoh

April 15, 2026
BULOG: Ketahanan Pangan Aman Hadapi Ancaman El Nino, Stok Beras Nasional Melimpah 4,6 Juta Ton

BULOG: Ketahanan Pangan Aman Hadapi Ancaman El Nino, Stok Beras Nasional Melimpah 4,6 Juta Ton

April 13, 2026
Ini Alasan Ban Mobil Listrik dan Mobil Konvensional Didesain untuk Pemakaian Berbeda

Ini Alasan Ban Mobil Listrik dan Mobil Konvensional Didesain untuk Pemakaian Berbeda

April 13, 2026

Penggeledahan Kantor Kementerian PU, Dimulainya Babak Baru Penyelidikan

April 10, 2026

Terhimpit Ritel Modern, Diperkirakan 2,2 Juta Pedagang Kecil Terpaksa Hentikan Usaha

April 10, 2026

Dedikasikan 52 Tahun Berkarya, Erros Djarot Hadirkan “BADAI PASTI BERLALU” Live in Concert

April 9, 2026
GemaBisnis.com - Bersama Membangun Bangsa

Gemabisnis.com adalah sebuah paltform informasi, investasi dan data yang berfokus pada bidang ekonomi dan bisnis, khususnya pasar komoditi di Indonesia dan global.

Follow Us

Kategori Populer

  • Bursa Komoditi
  • Digital
  • Ekbis
  • Energi & Pertambangan
  • Hortikultura
  • Hot News
  • Kehutanan & Lingkungan Hidup
  • Manufaktur
  • Opini
  • Pangan
  • Perikanan
  • Perkebunan
  • Pertanian
  • Peternakan
  • Profil
  • Teknologi dan Digital
  • Umum
  • Uncategorized
  • Wisata

Berita Terbaru

Pemkot Jakarta Timur Gencarkan Pilah Sampah dari Kantor, Munjirin Minta ASN Jadi Contoh

April 15, 2026
BULOG: Ketahanan Pangan Aman Hadapi Ancaman El Nino, Stok Beras Nasional Melimpah 4,6 Juta Ton

BULOG: Ketahanan Pangan Aman Hadapi Ancaman El Nino, Stok Beras Nasional Melimpah 4,6 Juta Ton

April 13, 2026
  • Home
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Pemberitaan
  • Kode Etik
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Copyright © 2021 www.gemabisnis.com

No Result
View All Result
  • Home
  • Hot News
  • Bursa Komoditi
  • Energi & Pertambangan
  • Kehutanan & Lingkungan Hidup
  • Perkebunan
  • Peternakan
  • Perikanan
  • Pangan
  • Hortikultura
  • Manufaktur
  • Opini
  • Umum
  • Ekbis
  • Profil

Copyright © 2021 www.gemabisnis.com