• Home
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Pemberitaan
  • Kode Etik
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
Minggu, Januari 18, 2026
GemaBisnis.com - Bersama Membangun Bangsa
  • Home
  • Hot News
  • Bursa Komoditi
  • Energi & Pertambangan
  • Kehutanan & Lingkungan
  • Perkebunan
  • Peternakan
  • Lainnya
    • Perikanan
    • Pangan
    • Hortikultura
    • Manufaktur
    • Opini
    • Umum
    • Ekbis
    • Profil
No Result
View All Result
  • Home
  • Hot News
  • Bursa Komoditi
  • Energi & Pertambangan
  • Kehutanan & Lingkungan
  • Perkebunan
  • Peternakan
  • Lainnya
    • Perikanan
    • Pangan
    • Hortikultura
    • Manufaktur
    • Opini
    • Umum
    • Ekbis
    • Profil
No Result
View All Result
GemaBisnis.com - Bersama Membangun Bangsa
No Result
View All Result

Pola Hubungan Antar Komponen Pembentuk PDB

Oleh :Fauzi Aziz, Pemerhati Ekonomi dan Industri

Admin by Admin
Mei 23, 2022
0
The New Way di Dunia Maya

Foto : Pribadi

0
SHARES
33
VIEWS
Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke WhatsApp

PERTAMA, komponen pembentuk produk domestik bruto (PDB) dari sisi pengeluaran adalah konsumsi, investasi, belanja pemerintah, ekspor dan impor. Mereka berada dalam satu kesatuan sistem ekonomi yang dikelola dengan menggunakan instrumen kebijakan ekonomi untuk menghasilkan output berupa barang dan jasa.

Pola hubungannya bersifat saling ketergantungan. Pertanyaannya kenapa diawali dengan konsumsi?.Jawabannya yang paling mendasar karena dengan konsumsi, orang akan bisa bertahan hidup. Indonesia beruntung, rumah tangga masyarakatnya tiap tahun dapat menyumbang rata-rata 56% terhadap PDB. Nilainya saat ini sekitar Rp 9.000 triliun.

KEDUA, jika sepertiganya disisihkan sebagai dana investasi, maka masyarakat mampu menyediakan ekuitas sebesar Rp 3.000 triliun sebagai dana investasi. Kita tinggal hitung berapa dana investasi yang dibutuhkan untuk membangun industri, pertanian, pertambangan (migas dan non migas), maritim,dan infrastruktur.

BacaJuga

Pembayaran Royalti Musik, Pelaku Usaha Untung, Konsumen Buntung

Presiden Putin Apresiasi Peningkatan Kerjasama Indonesia-Rusia

Jika sekarang sumbangan investasi sekitar 30% terhadap PDB, kira-kira Rp 5.000 triliun tiap tahun, dan angka ini kita asumsikan sebagai kebutuhan dana investasi, maka Rp 2.000 triliun kekurangannya dapat ditutup dengan dengan dana pinjaman. Dana investasi yang Rp 5.000 tersebut bisa dipakai untuk membangun industri, pertanian, pertambangan, maritim dan Infrastrukktur ( hard dan soft infrastructure) yang kemudian akan menghasilkan barang dan jasa yang bernilai tambah tinggi untuk diekspor dan sebagian untuk mencukupi kebutuhan dalam negeri.

Semua kegiatan transaksi di pasar dalam negeri dan pasar internasional harus menguntungkan agar bisa dihimpun kembali sebagai pendapatan nasional, yang sebagian bisa dipakai untuk konsumsi, sebagian lagi ditabung sebagai pembentuk dana investasi baru, dan sebagian lagi digunakan sebagai dana cadangan.

KETIGA, hal yang kita bahas ini adalah prinsip yang berlaku universal. Penyederhanaan berpikir semacam itu penulis utarakan bahwa sebagai ekosistem universal akan berjalan dengan baik jika diimbangi dengan penegakan prinsip tata kelola kebijakan yang baik.

Dunia menjadi tidak bisa berbuat banyak ketika utang ditempatkan sebagai king maker penggerak ekonomi. Akibatnya semua negara ketakutan karena menghadapi bed debt, dan gagal bayar. Padahal panduan umumnya memberikan diskursus bahwa utang sebaiknya digunakan sebagai pelengkap bukan sebagai yang utama.

Yang utama adalah ekuitas atau modal sendiri, sehingga lahir panduan debt equity ratio, misalnya 60/70% berupa ekuitas, dan 40/30% berupa utang. Tapi prakteknya, kaidah sederhana ini dilanggar habis – habiskan agar kapitalisme bisa hidup mewah, bisa mengusai dunia dan kekuasaan. Bed debt ataupun gagal bayar adalah harapan mereka.

Praktek ini melembaga dan para debitur harus pasrah menghadapi ancaman debt crises karena tak mampu bayar utang. Uang, modal, dan total control adalah platform politik ekonomi kapitalisme yang captive marketnya adalah negara-negara emerging economy, termasuk Indonesia. Mereka tidak pelit memberi status invesment grade dan credit rating yang baik – baik di sejumlah emerging economy karena negara-negara ini haus dana pembangunan dan investasi.

KEEMPAT, dengan perspektifnya masing – masing, kita bisa mengutarakan cara pandang secara obyektif maupun subyektif tentang apa yang seharusnya dan apa faktanya.Yang seharusnya adalah 60/70% adalah ekuitas, dan 40/30% adalah utang. Faktanya secara umum yang terjadi sebaliknya, yaitu 60/70 % berupa utang, bahkan ada yang 100% utang. Jika anda percaya dengan fakta ini maka ketika semua negara memasang RATIO utang terhadap PDB maksimum 60% dianggap wajar, ya boleh jadi faktor nya bersumber dari fakta itu.

KELIMA, mari kembali ke laptop bahwa sistem ekonomi yang bergerak normal menjadi sumber penghidupan bagi konsumen, investor,produsen,, dan para pedagang. Mereka semua adalah pelaku pasar. Pemerintah adalah penjaga pasar. Fungsinya sebagai regulator dan fasilitator adalah menjamin ekosistem agar mereka mampu menjadi pelaku pasar yang efisien dan produktif.

Cara kita menekan utang luar negeri pemerintah atau swasta adalah hanya satu, yaitu debt equity rationya harus dikelola dengan taat azas, tidak boleh overstretch sehingga jumlah utangnya lebih besar dari utangnya, atau 60/70% utang,, dan equitynya hanya 40/30%.

Penulis bisa memahami jika menteri keuangan Sri Mulyani pernah menggagas bahwa sistem keuangan inklusif harus dibesarkan volume dan nilainya untuk mengatasi masalah klasik, yaitu saving and invesment gap. Atau jika menggunakan alur fikir kebijakan fiskal dimaksudkan untuk menekan defisit keseimbangan primer.

KEENAM, upaya ini berarti mendorong mobilisasi dana masyarakat sebagai sumber dana investasi di dalam negeri. Saving and invesment gap, selama ini selalu ditutup dengan utang. Ke depan, gap tersebut harus ditutup dengan dana masyarakat di dalam negeri. Berarti bahwa sebagian pengeluaran belanja konsumsi rumah tangga yang mencapai rata-rata 56% terhadap PDB, saat ini sekitar Rp 9.000 triliun sebagian digeser menjadi dana investasi langsung untuk memproduksi barang dan jasa di dalam negeri.

Dana yang dipakai untuk konsumsi dapat menjadi obyek PPN, dan yang ditempatkan sebagai dana investasi harus bebas PPN. Mari kita tata ulang policy frameworknya secara lengkap dalam satu mata rantai untuk mewujudkan pola hubungan antara komponen pembentuk PDB. Sehingga pengerahan sumber daya domestik untuk menggerakkan konsumsi, investasi, produksi, ekspor tidak lagi sepenuhnya bergantung pada sumber daya eksternal yang sekarang ini biayanya semakin mahal. Sederhana bukan? Gitu saja kok repot.

Tags: adefisit anggaranFauzi AzizPDBPDB Indonesiapinjaman luar negeriproduk domestik bruto
Previous Post

Volume Transaksi di BEI Meningkat 4,84%

Next Post

AMMDes Unjuk Gigi di Kancah Internasional

Admin

Admin

Related Posts

Pembayaran Royalti Musik, Pelaku Usaha Untung, Konsumen Buntung
Opini

Pembayaran Royalti Musik, Pelaku Usaha Untung, Konsumen Buntung

by Admin
Agustus 14, 2025
0

Isu pembayaran royalti musik khususnya terhadap pelaku usaha kafe, restoran dan pub terus bergulir. Sikap masyarakat pun terbelah terhadap pungutan...

Read more
Presiden Prabowo, Presiden Putin Saksikan Pertukaran MoU Kemitraan Strategis Indonesia-Rusia

Presiden Putin Apresiasi Peningkatan Kerjasama Indonesia-Rusia

Juni 20, 2025
Presiden Prabowo, Presiden Putin Saksikan Pertukaran MoU Kemitraan Strategis Indonesia-Rusia

Presiden Prabowo, Presiden Putin Saksikan Pertukaran MoU Kemitraan Strategis Indonesia-Rusia

Juni 20, 2025
Suasana pemberian makanan jemaah haji dengan petugas kesehatan, dokter dan kepala regu rombongan Kloter 53 Jakarta

Sungguh Beruntung Mereka yang Ada di Arafah Saat Itu

Juni 19, 2024
Thailand Keluhkan Ketatnya Persyaratan Halal di Indonesia

Thailand Keluhkan Ketatnya Persyaratan Halal di Indonesia

Mei 28, 2024
Next Post
AMMDes Unjuk Gigi di Kancah Internasional

AMMDes Unjuk Gigi di Kancah Internasional

BERITA TERBARU

Produksi Sawit Indonesia Terancam

Sawit Hasil dari Tanah Sengketa akan Hadapi Kendala Pemasaran

Januari 17, 2026
BULOG Resmi Peroleh Margin Fee 7%, Perkuat Peran Strategis Pangan Nasional

BULOG Resmi Peroleh Margin Fee 7%, Perkuat Peran Strategis Pangan Nasional

Januari 13, 2026
BULOG Ukir Prestasi Pengadaan Beras Nasional Tetinggi Sepanjang Sejarah 3,2 Juta Ton di Tahun 2025

BULOG Pastikan Petani Dapatkan Harga GKP Rp 6.500/kg Melalui Pembayaran Secara Digital

Januari 12, 2026
BULOG Siapkan Strategi Jalankan Penugasan Lebih Besar di 2026

BULOG Siapkan Strategi Jalankan Penugasan Lebih Besar di 2026

Januari 12, 2026

Wali Kota Jaktim Dorong Pemanfaatan Lahan Kosong Lewat Panen Anggur

Januari 10, 2026

Mentan RI : Amran Apresiasi Peran Kapolri dan DPR-RI dalam Percepatan Swasembada Pangan

Januari 9, 2026
GemaBisnis.com - Bersama Membangun Bangsa

Gemabisnis.com adalah sebuah paltform informasi, investasi dan data yang berfokus pada bidang ekonomi dan bisnis, khususnya pasar komoditi di Indonesia dan global.

Follow Us

Kategori Populer

  • Bursa Komoditi
  • Ekbis
  • Energi & Pertambangan
  • Hortikultura
  • Hot News
  • Kehutanan & Lingkungan Hidup
  • Manufaktur
  • Opini
  • Pangan
  • Perikanan
  • Perkebunan
  • Pertanian
  • Peternakan
  • Profil
  • Umum
  • Uncategorized
  • Wisata

Berita Terbaru

Produksi Sawit Indonesia Terancam

Sawit Hasil dari Tanah Sengketa akan Hadapi Kendala Pemasaran

Januari 17, 2026
BULOG Resmi Peroleh Margin Fee 7%, Perkuat Peran Strategis Pangan Nasional

BULOG Resmi Peroleh Margin Fee 7%, Perkuat Peran Strategis Pangan Nasional

Januari 13, 2026
  • Home
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Pemberitaan
  • Kode Etik
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Copyright © 2021 www.gemabisnis.com

No Result
View All Result
  • Home
  • Hot News
  • Bursa Komoditi
  • Energi & Pertambangan
  • Kehutanan & Lingkungan Hidup
  • Perkebunan
  • Peternakan
  • Perikanan
  • Pangan
  • Hortikultura
  • Manufaktur
  • Opini
  • Umum
  • Ekbis
  • Profil

Copyright © 2021 www.gemabisnis.com