Gemabisnis.com, YOGYAKARTA – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menemukan, aplikasi pupuk berbasis silika (Si) mampu meningkatkan pertumbuhan dan produktivitas bawang merah asal true shallot seed (TSS) secara signifikan.
Peneliti Pusat Riset Tanaman Pangan (PRTP) BRIN, Arlyna Budi Pustika, mengatakan kebutuhan bawang merah di Indonesia terus meningkat setiap tahun. Namun, salah satu tantangannya adalah para petani masih bergantung pada umbi sebagai bahan tanam.
Sebagai alternatif, penggunaan TSS atau benih botani menawarkan berbagai keunggulan. Dibandingkan benih umbi, TSS membutuhkan jumlah benih yang jauh lebih sedikit, lebih mudah didistribusikan, memiliki daya simpan lebih lama, serta berpotensi menghasilkan produktivitas yang lebih tinggi, jelasnya seperti diinformasikan Humas BRIN di Jakarta.
Sayangnya, pemanfaatan TSS di tingkat petani belum optimal karena pertumbuhan tanaman masih sangat dipengaruhi oleh teknik budi daya sehingga hasil panennya belum konsisten.
Arlyna menjelaskan, penelitian dilakukan dengan menguji tiga varietas bawang merah asal TSS, yaitu Sanren, Lokananta, dan Merdeka. Masing-masing varietas diberi perlakukan pupuk silika, yaitu 0, 5, dan 10 mL per liter untuk mengetahui pengaruhnya terhadap penyerapan silika, struktur daun, pertumbuhan tanaman, kandungan unsur hara, hingga produktivitas hasil panen.
Hasil penelitian menunjukkan, varietas Sanren memberikan respons paling baik terhadap aplikasi silika. Pada pemberian silika 10 mL per liter, kandungan silika di dalam daun meningkat hingga 5,39 persen dan ketebalan lapisan kutikula daun bertambah sekitar 121 persen dibandingkan tanaman tanpa perlakuan.
“Kondisi ini membuat tanaman lebih kuat menghadapi serangan patogen sekaligus meningkatkan efisiensi fotosintesis,” jelasnya, Senin (29/6). Menurutnya, peningkatan kondisi fisiologis tersebut berdampak langsung terhadap produktivitas tanaman. Jumlah daun meningkat lebih dari dua kali lipat, jumlah anakan bertambah dari 3,38 menjadi 4,94 per tanaman, sedangkan jumlah umbi naik dari 4,50 menjadi 7,38 umbi per tanaman. Selain itu, diameter umbi juga meningkat dari 2,31 sentimeter menjadi 2,86 sentimeter.
“Secara keseluruhan, produktivitas varietas Sanren meningkat sekitar 30–70 persen dibandingkan tanaman tanpa aplikasi silika,” ungkap Arlyna.
Peneliti PRTP BRIN lainnya, Kristamtini, menyatakan selain meningkatkan hasil panen, penyerapan silika yang tinggi berkaitan dengan menurunnya kandungan logam berat seperti timbal (Pb), tembaga (Cu), dan kadmium (Cd) pada daun.
“Temuan ini membuka peluang penggunaan pupuk silika tidak hanya untuk meningkatkan produktivitas, tetapi juga mendukung kualitas dan keamanan hasil pertanian. Meski demikian, penelitian lanjutan terhadap kandungan logam berat pada umbi masih diperlukan,” ungkapnya.
Lebih lanjut, hasil penelitian menunjukkan keberhasilan penerapan teknologi budi daya berbasis TSS juga ditentukan oleh pemilihan varietas. Varietas Sanren terbukti paling responsif terhadap aplikasi pupuk silika, sedangkan Merdeka menunjukkan respons sedang, dan Lokananta relatif kurang responsif.
Temuan tersebut diharapkan dapat menjadi acuan bagi petani dalam memilih varietas sekaligus menerapkan teknologi pemupukan yang tepat untuk meningkatkan produktivitas bawang merah. Di sisi lain, pemanfaatan TSS berpotensi mengurangi ketergantungan pada benih umbi sehingga mendukung sistem budidaya bawang merah yang lebih efisien, berkelanjutan, dan mampu memperkuat ketahanan pasokan bawang merah nasional.
Penelitian ini merupakan kolaborasi antara tim peneliti BRIN dengan Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Yogyakarta dan The University of Queensland, yang telah dipublikasikan dalam jurnal internasional bereputasi Chilean Journal of Agricultural Research melalui artikel berjudul Use of Si-based Fertilizer Significantly Improves the Performance of ‘Sanren’ Botanical Seed-derived Shallot. (LS)












