Gemabisnis.com, JAKARTA – Menteri Luar Negeri (Menlu) Rusia Sergey Lavrov mengatakan pertemuan antara Presiden Rusia Vladimir Putin dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky hanya dimungkinkan terjadi setelah pemulihan seluruh proses negosiasi kedua belah pihak.
Pernyataan tersebut disampaikan Menlu Sergei Lavrov di Ankara, Turki Rabu (8/6) dalam sebuah jumpa pers setelah mengadakan pembicaraan dengan Menlu Turki Mevlut Cavusoglu seperti dilaporkan kantor berita TASS Rabu (8/6).
Menlu Lavrov menyindir pendekatan presiden Ukrainia dalan proses negosiasi itu sebagai tidak serius karena sikapnya yang terus menerus berubah-ubah tiap hari.
Menurut Lavrov, pembukaan kembali proses dialog tergantung kepada psoisi Kiev yang kini kini belum juga menyampaikan respons terhadap rancangan kesepakatan versi Rusia yang diajukan pada pertengahan April lalu.
Dalam kesempatan tersebut Menlu Lavrov juga menyatakan bahwa Rusia tidak akan menggunakan pelabuhan Ukraina yang sudah dibersihkan dari ranjau laut (yang ditebar pasukan Ukraina) untuk kepentingan militer Rusia dan Rusia sepakat untuk memformalkan suatu jaminan jika diperlukan.
“Kami menjamin…bahwa jika Ukraina sepakat untuk membersihkan ranjau di kawasan pesisirnya dan membiarkan kapal-kapal meninggalkan pelabuhan-pelabuhannya kami tidak akan mengambil keuntungan dari situasi tersebut untuk melanjutkan operasi militer khusus kami. Ini adalah jaminan dari presiden kami (Vladimir Putin) dan kami siap untuk memformalisasi jaminan tersebut,” tutur Menlu Lavrov.
Menurut Menlu Lavrov, pihak Moskow juga siap untuk berdiskusi dengan pihak Kiev mengenai ekspor biji-bijian Ukraina melalui mediasi PBB, namun solusi atas isu tersebut diserahkan sepenuhnya kepada Ukraina.
Sementara itu, pihak Turki yang diwakili Menlu Mevlut Cavusoglu menyatakan keyakinannya bahwa mekanisme ekspor biji-bijian dari pelabuhan Ukraina dapat dibentuk oleh Rusia, Ukraina, Turkey dan PBB.
Menlu Lavrov menyatakan Moskow siap berkoordinasi dengan Ankara untuk memastikan keamanan kapal yang meninggalkan pelabuhan-pelabuhan Ukraina, namun satu-satunya masalah adalah posisi Kiev yang sejauh ini terus menolak membersihkan ranjau di wilayah perairannya.
Lavrov menegaskan jika pihak rejim Ukraina siap membuka akses kapal (pengangkut biji-bijian) maka Rusia akan sangat senang untuk bekerjasama.
Rusia, tambah Lavrov, juga siap untuk mengadakan pertemuan dengan Ukraina di bawah mediasi PBB, namun pastisipasi Ukraina akan sangat simbolis. Untuk menyelesaikan masalah ini pihak Ukraina cukup membiarkan kapal-kapal meninggalkan pelabuhan-pelabuhan mereka.
Dalam kesempatan itu Lavrov juga menekankan bahwa isu ekspor biji-bijian Ukraina yang oleh pihak Barat dan Kiev coba disajikan sebagai malapetaka global, sama sekali tidak ada kaitannya dengan krisis pangan dunia. Sebab, pangsa dari biji-bijian Ukraina (gandum dan biji-bijian lainnya) itu kurang dari 1% dari produksi dunia. (YS)













