Gemabisnis.com, JAKARTA – Volume ekspor minyak sawit dan produk turunannya selama bulan Mei 2025 mengalami kenaikan 49,75% menjadi 2,66 juta ton dibandingkan dengan 1,78 juta ton pada bulan April 2025. Demikian disampaikan Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Mukti Sardjono melalui keterangan tertulisnya yang diterima redaksi, Kamis (24/07).
Menurut Mukti, kenaikan ekspor terbesar terjadi pada minyak sawit olahan yang naik 58,50% menjadi 1,97 juta ton di bulan Mei 2025 dari 1,24 juta ton pada bulan April, diikuti CPO yang naik 205,56% menjadi 164.000 ton di bulan Mei 2025 dari 54.000 ton pada bulan April 2025. Ekspor oleokimia juga mengalami kenaikan 18,75% menjadi 437.000 ton di bulan Mei 2025 dari 368.000 ton pada bulan April 2025.
Berdasarkan negara tujuannya, lanjut Mukti, ekspor minyak kelapa sawit dan produk turunannya yang mengalami kenaikan di bulan Mei 2025 dibandingkan bulan sebelumnya antara lain: India (230.000 ton), China (88.000 ton), AS (32.000 ton), Pakistan (50.000 ton), Bangladesh (54.000 ton), Afrika (197.000 ton) dan EU (117.000 ton). Negara tujuan yang mengalami penurunan ekspor di bulan Mei dibandingkan dengan bulan April terjadi untuk tujuan Russia (-27.000 ton).
Mukti mengatakan nilai ekspor produk sawit bulan Mei mengalami kenaikan dari US$ 2,07 miliar di bulan April menjadi US$ 2,82 miliar atau naik sebesar 36,40%. Nilai ekspor Januari-Mei mengalami kenaikan dari US$ 10,04 miliar pada 2024 menjadi US$ 13,64 miliar pada tahun 2025 atau naik sekitar 35,93%. Kenaikan nilai ekspor tersebut antara lain karena harga rata-rata produk Januari-Mei tahun 2025 sebesar US$ 1.186/ton Cif Rotterdam lebih tinggi dari rata-rata Januari-Mei tahun 2024 sebesar US$ 997/ton Cif Rotterdam.
Sementara itu, tambah Mukti, produksi CPO bulan Mei 2025 turun 7,01% menjadi 4,16 juta ton dari 4,48 juta ton di bulan sebelumnya. Produksi PKO bulan Mei juga turun menjadi 396.000 ton dari 425.000 ton. Secara YoY sampai dengan bulan Mei, produksi CPO+PKO tahun 2025 mencapai 22,60 juta ton atau sekitar 2,08% lebih tinggi dari produksi tahun 2024 sebesar 22,14 juta ton.
Konsumsi dalam negeri mengalami penurunan dari 2,10 juta ton pada bulan April menjadi 2,03 juta ton pada bulan Mei. Konsumsi untuk pangan pada bulan Mei turun menjadi 803.000 ton atau turun sebesar 7,81% dari bulan sebelumnya sebesar 871.000 ton, untuk oleokimia naik menjadi 187.000 ton atau sebesar 2,19% dari bulan sebelumnya sebesar 183.000 ton sedangkan untuk biodiesel turun menjadi 1,04 juta ton atau sebesar 0,67% dari bulan sebelumnya sebesar 1,05 juta ton.
Mukti menjelaskan dengan stok awal bulan Mei sebesar 3,05 juta ton, produksi CPO+PKO naik menjadi 4,56 juta ton, konsumsi dalam negeri turun menjadi 2,03 juta ton dan ekspor naik menjadi 2,66 juta ton, stok di akhir Mei turun menjadi 2,92 juta ton. (YS)











