Gemabisnis.com, JAKARTA – Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) menyatakan kinerja produksi, konsumsi dan ekspor komoditas sawit nasional mengalami penurunan di bulan September 2025 jika dibandingkan dengan kinerja di bulan Agustus 2025.
Direktur Eksekutif GAPKI Mukti Sadjono menyatakan produksi minyak sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO) di bulan September 2025 turun 22,32% menjadi 3.932.000 ton dari produksi bulan sebelumnya yang mencapai 5.062.000 ton. Sementara produksi Palm Kernel Oil (PKO) di bulan September turun 23,9% menjadi 366.000 ton dari 481.000 ton di bulan sebelumnya.
Mukti menabahkan secara year-on-year (YoY) sampai dengan bulan September (Januari-September 2025), produksi CPO dan PKO tahun 2025 mencapai 43.335.000 ton atau naik sekitar 11,30% dari produksi pada periode yang sama tahun sebelumnya 38.937.000 ton.
Menurut Mukti, total konsumsi minyak sawit dalam negeri mengalami penurunan dari 2.100.000 ton di bulan Agustus 2025 menjadi 2.053.000 ton di bulan September 2025. Penurunan terbesar terjadi pada konsumsi minyak sawit untuk biodiesel yang turun menjadi 1.070.000 ton atau turun 3,69% dari bulan sebelumnya yang mencapai 1.111.000 ton.
Konsumsi minyak sawit untuk pangan, lanjut Mukti, juga mengalami penurunan menjadi 793.000 ton dari 806.000 ton pada bulan sebelumnya atau turun sebesar 1,61%. Namun, konsumsi oleokimia naik 3,83% menjadi 190.000 ton dari 183.000 ton pada bulan sebelumnya.
Mukti mengatakan total ekspor produk sawit di bulan September 2025 turun 36,65% menjadi 2.200.000 ton dibandingkan dengan ekspor di bulan sebelumnya yang mencapai 3.473.000 ton. Penurunan ekspor terbesar terjadi pada minyak sawit olahan yang turun 32,86% menjadi 1.573.000 ton di September dari 2.343.000 ton di Agustus. Selanjutnya, ekspor CPO turun 81,58% menjadi 91.000 ton dari 494.000 ton sedangkan ekspor oleokimia turun 53,27% menjadi 93.000 ton dari 199.000 ton.
Berdasarkan negara tujuannya, penurunan ekspor di bulan September dibanding bulan sebelumnya antara lain terjadi ke India (turun 409.000 ton), ke China (turun 212.000 ton), ke Malaysia (turun 144.000 ton), ke Afrika (turun 143.000 ton), ke Pakistan (turun 123.000 ton), ke AS (turun 73.000 ton), ke Uni Eropa (turun 50.000 ton), ke Bangladesh (turun 26.000 ton), dan ke Timur Tengah(turun 24.000 ton). Sebaliknya, kenaikan ekspor terjadi untuk negara tujuan Rusia (18.000 ton).
Nilai ekspor produk sawit di bulan September mengalami penurunan dari US$3,819 miliar di bulan Agustus menjadi US$2,528 miliar di bulan September atau turun sebesar 33,80%. Secara YoY sampai dengan bulan September, nilai ekspor 2025 mencapai US$27,313 miliar lebih tinggi 39,85% dari ekspor tahun 2024 sebesar US$ 19,530 miliar. Peningkatan nilai ekspor terjadi karena harga rata-rata Januari-September tahun 2025 sebesar US$1.210/ton Cif Rotterdam yang lebih tinggi dari rata-rata Januari-September tahun 2024 sebesar US$1.020/ton Cif Rotterdam.
Dengan stok awal bulan September sebesar 2.543.000 ton, produksi CPO dan PKO turun menjadi 4.298.000 ton, konsumsi dalam negeri turun menjadi 2.053.000 ton dan ekspor turun menjadi 2.200.000 ton, maka stok di akhir September naik menjadi 2.592.000 ton. (YS)













