Ancaman adanya badai resesi global sudah ramai dilontarkan para pakar ekonomi. Sejumlah negara disebutkan sudah mulai mengalami resesi yang ditandai inflasi yang tinggi. Menghadapi badai resesi itu, para bandar sudah siap melakukan aksinya. Ada bandar lokal dan ada bandar kelas internasional. Kapan resesi global benar-benar terjadi dan siapa saja para bandar itu dan apa saja tugasnya?
PERTAMA, kapan, dimana, seperti apa badai resesi terbentuk, serta seberapa dalam dampak yang ditimbulkan, dan kapan berakhir tidak ada satupun pakar yang tahu. Tapi anehnya para pakar pula yang bikin heboh bahwa dunia menghadapi ancaman badai resesi. Hebat prediksi mereka, pandai kelakar ( pakar), tapi bikin penasaran juga, karena mata, telinga dan pikirannya memang cermat mengikuti fenomena dan dinamika ekonomi.
KEDUA, meskipun sulit diramalkan para pakar tetap memberikan sinyal bahwa tahun 2023,badai resesi potensial akan terjadi. Dimana pusat gempanya dan berapa skala richter letusannya lihat saja nanti. Sekarang bukan waktunya untuk bertanya karena pergerakan magma resesi sudah terasa. Lelehan awan pijar mulai nampak dan terasa terjadi goncangan kecil, di Jerman, Inggris dan sebagainya. Bumi gonjang ganjing. Inflasi global makin tak terkontrol bahkan bisa terjadi stagflasi. Katanya telah mengalami overheating akut, berarti panas banget. Apa bisa kemudian menjadi deflasi?. Bisa saja terjadi. Tapi jangan senang dulu karena deflasi bukan hanya sekedar harga-harga turun, tapi lebih dari itu bisa jadi malapetaka serius karena aktivitas ekonomi bisa mati suri. Barang bertumpuk di gudang karena tidak laku dijual akibat tidak ada yang beli.
Saat inflasi terjadi, permintaan barang mbludak, tapi persediaan barang terbatas, maka terjadi overheating . Jadi kedua peristiwa ekonomi itu sama-sama buruknya. Manakala respon kebijakan terlambat dilakukan, maka kedua situasi buruk itu akan menimbulkan badai resesi. Resesi adalah bencana yang perlu dimitigasi agar aktivitas ekonomi normal kembali. Proses pemulihan pasti butuh cost recovery yang tidak kecil.
KETIGA, tidak ada pilihan bagi pemerintah, kecuali harus melakukan tindakan mitigasi dan menyediakan dana mitigasi, dana rehabilitasi,dan restrukturisasi, serta dana stabilisasi, subsidi dan lain – lain, tergantung dari demage factor yang ditimbulkan. Kita harapkan, APBN 2023 mestinya sudah mempersiapkan berbagai kebutuhan dana tersebut dalam satu Depocit Account yang dalam framework kebijakan fiskal biasa disebut dana kontijensi .Pemerintah juga sudah punya Bond Stabilization Frame work.
Tidak perlu panik, semoga pemerintah sudah mempersiapkan segala sesuatunya Boleh jadi, pemerintah juga sudah melakukan hotline dengan IMF dan sejumlah lembaga lembaga keuangan internasional untuk menyediakan dana talangan ( bailout) jika memang diperlukan untuk mengatasi problem pengeringan likuiditas nasional yang acapkali terjadi karena resesi ekonomi. Ya Allah, lindungi bangsa kami agar terbebas dari resesi.
KEEMPAT,dari sisi biaya penyelamatan dan pemulihan ekonomi boleh jadi bisa ditutup dengan ekuitas dalam negeri sendiri sepenuhnya,dan jika tidak cukup pasti akan menarik dana pinjaman luar negeri atau bailout dari IMF. Tidak perlu ribet, semua sudah ada yang mengatur jika resesi ekonomi terjadi, mekanisme rinci tentang bagaimana mengatasi resesi ekonomi juga sudah ada tata caranya. Serahkan ahlinya, Pemerintah punya dana winfall jualan komoditas dan punya surplus anggaran dan surplus neraca perdagangan. Semoga juga punya surplus neraca transaksi berjalan dalam jumlah besar agar stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terjaga .
Kita punya pengalaman buruk tahun 2011 hingga tahun 2019,Indonesia mengalami defisit transaksi berjalan berturut – turut hingga mengakibatkan nilai tukar rupiah terhadap dolar naik dari Rp 9.000 menjadi Rp 14.445 per dolar AS atau terdepresiasi 60,5%.Berarti kita butuh DHE dari ekspor barang dan jasa yang bisa menghasilkan surplus besar untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Berinvestasi pada aset berdenominasi rupiah yang lemah menjadi sentimen negatif atau tidak menarik bagi investor dalam negeri maupun asing.
KELIMA, resesi bisa dikatakan sebuah situasi yang bisa terjadi kapan saja. Jika sinyal diabaikan dan sistem kendali tidak berfungsi dengan baik, maka resesi bisa saja terjadi. Inflasi dan deflasi yang gagal dimitigasi bisa menyebabkan resesi. Tanpa harus menunggu pertumbuhan negatif, ketika aktivitas ekonomi menurun tajam dalam kurun relatif lama maka itulah resesi.
Resesi dengan skala Richter besar atau kecil harus dimitigasi. Mitigasi diperlukan agar segera terjadi pemulihan. Para bandar di suatu negara yang mengurus mitigasi resesi adalah gubernur Bank Sentral dan Menteri Keuangan.Di tingkat Internasional bandarnya adalah IMF, World Bank dan lembaga keuangan internasional lain yang kredibel.
KEENAM, bicara bandar, tentu ada bandar besar dan bandar kecil. Di antara mereka sosoknya berbeda.Di mata bandar besar, resesi ekonomi adalah “bisnis besar” . Dia adalah pengendali dana global anggota geng Global Capitalism . Bandar ini selalu menyediakan dua menu utama, yaitu : 1)menyediakan dana bailout .2) menyiapkan Structural Adjustment Progam (SAP) sesuai maunya bohir. Dana bailout baru bisa ditarik bila SAP sudah disetujui dan ditanda tangani oleh presiden di negara yang butuh bailout dari IMF.
Bandar kecil adalah para gubernur bank sentral dan mentari keuangan suatu negara. Tugas bandar kecil adalah memanfaatkan dana bailout secara bertanggung jawab untuk pemulihan ekonomi. Peran bandar kecil sesungguhnya tidak lebih sekedar menjalankan fungsi channeling agar dana yang dibantu bandar besar dapat tersalur tepat sasaran untuk menghasilkan output ekonomi dan income.
KETUJUH, output dan income yang paling dibutuhkan oleh bandar besar karena ada semacam jaminan bahwa utangnya bisa dilunasi pada saat jatuh tempo. Sumber income bagi channeling yang paling Utama adalah Devisa Hasil Ekspor ( DHE), dan pajak. Hanya dengan cara ini, utang akan terbayar dengan risiko gagal bayar yang rendah.
Begitu sederhananya siklus ekonomi berputar. Jika terjadi resesi ada yang rugi, ada pula yang untung. Yang rugi pasti ekonomi negara terdampak. Dan yang bisa menangguk untung pasti lembaga keuangan internasional yang memberikan bailout.
Ketika membaca sejarah pembentukan G20 tahun 1999, forum ini jelas diniatkan lahir, dimana negara G7 bersama – sama sejumlah negara berkembang hadir untuk mengatasi krisis ekonomi yang berdampak global, seperti : Mexican Peso Crisis 1994,Asian Financial Crisis 1997/1998, Russian Financial Crisis 1998,dan Financial Crisis 2007-2008.Dari catatan ini berarti G20 punya peran besar untuk mengatasi krisis ekonomi.
KEDELAPAN, tidak berlebihan jika dunia berharap pertemuan KTT G20 tanggal 16-17 Nopember 2022 di Bali bisa mengusir badai resesi yang diprediksi akan terjadi tahun depan. Jika tidak berhasil maka kita katakan bahwa KTT G20 omdo mencegah resesi ekonomi lebih baik dan lebih mulya. “Bandar besar” tidak perlu khawatir, bisnis jalan terus. Turunkan suku bunga the fed, ekonomi global akan kembali berputar. Cetak US$ tidak akan inflasi karena mata uang US$ ada dimana mana, dan sekali lagi, inilah money game dalam setiap siklus ekonomi.Selama sistem moneter dan fiskal “menginduk” secara tegak lurus ke sistem global capitslism maka para ” bandar” kecil ini secara de facto dan de jure adalah menjadi “sub ordinasi” bandar besar”.
Dan akhirnya, dapat dikatakan bahwa tugas “bandar kecil” menjadi semacam penjaga mata uang US$ ketimbang mata uang lokalnya sendiri. Artinya lebih “mendaulatkan” US$ daripada rupiah dalam hal kita di negeri ini. Buktinya jika US$ kabur, rupiahnya ikut mabur.













