Minggu, 27 September 2026
Disusun dan dikurasi oleh Paulus W Broto
Bharata akhirnya mengerti: Rama tidak akan pulang.
Ia telah menyusul kakaknya ke Citrakuta. Para ibu, tetua kerajaan, pendeta, pejabat, dan rakyat Ayodhya ikut dalam perjalanan itu. Bharata datang bukan untuk meminta bagian kekuasaan. Ia justru hendak mengembalikan takhta yang diperoleh akibat tuntutan ibunya, Kaikeyi, dan yang menurutnya tidak patut ia nikmati.
Pulanglah ke Ayodhya. Pimpin kembali kerajaan.
Rama tetap teguh.
Janji kepada ayah mereka, Dasaratha, harus dituntaskan. Empat belas tahun pengasingan bukan lagi perkara nyaman atau tidak nyaman. Bagi Rama, janji telah menjadi dharma.
Berbagai alasan disampaikan, bujuk rayu dicoba. Para bijak ikut berbicara. Bharata terus memohon. Namun Rama tidak bergeser.
Di hadapan Bharata terbentang dilema. Ayodhya membutuhkan pemerintahan. Rama tidak bersedia kembali. Bharata mempunyai darah kerajaan, dukungan, kemampuan, dan kesempatan.
Ia dapat saja berkata: kalau begitu, biarlah aku menjadi raja.
Bharata memilih jalan lain.
Ia meminta sepasang sandal Rama—paduka, alas kaki yang dikenakan kakaknya.
Rama mengenakan paduka itu sejenak, kemudian menyerahkannya.
Bharata menerimanya.
Lalu terjadilah sebuah adegan yang lebih kuat daripada pidato panjang tentang kerendahan hati.
Bharata mengangkat sepasang sandal itu ke atas kepalanya. Ia nyunggi paduka Rama.
Seorang pangeran yang sebentar lagi menjalankan pemerintahan tidak membawa pulang mahkota.
Ia membawa pulang sepasang sandal.
Dalam Ramayana Valmiki, Bharata kembali menuju Nandigrama dengan paduka itu dijunjung di atas kepalanya. Di sana paduka Rama ditempatkannya di atas takhta kerajaan sebagai lambang kehadiran dan kedaulatan Rama.
Namun Bharata sendiri tidak duduk di takhta itu.
Ia tinggal di Nandigrama. Rambutnya dijalin seperti seorang pertapa. Kulit kayu menjadi pakaiannya. Pemerintahan tetap berjalan, namun Bharata tidak mengambil kedudukan Rama sebagai miliknya. Bahkan urusan kerajaan dan persembahan yang datang terlebih dahulu dihadapkan kepada paduka.
Dengan paduka Rama berada di atas takhta, seakan setiap hari Bharata mengingatkan dirinya:
Ini bukan milikku. Aku hanya menjaganya.
Di situlah sandal berubah makna.
Paduka tetaplah alas kaki—benda yang biasanya berada paling dekat dengan tanah. Namun Bharata mengangkatnya ke tempat tertinggi pada tubuhnya: kepala. Kemudian menempatkannya di atas takhta yang sebenarnya dapat ia duduki sendiri.
Bukan karena sandal lebih mulia daripada manusia.
Melainkan karena sesuatu yang dilambangkannya harus ditempatkan lebih tinggi daripada orang yang memegang kekuasaan:
amanah.
⸻
Barangkali di situlah kisah tua ini terasa tidak nyaman ketika dibawa ke kehidupan kita hari ini.
Bharata mempunyai kesempatan mengubah kekuasaan menjadi miliknya, namun justru menciptakan batas terhadap dirinya sendiri.
Kita perlu bercermin ketika yang terjadi sebaliknya.
Jabatan yang seharusnya titipan mulai diperlakukan seperti hak milik. Kedekatan dengan kekuasaan berubah menjadi jalan khusus. Pelayanan yang seharusnya merupakan hak warga terasa seperti kemurahan hati pemegang kewenangan.
Lebih berbahaya lagi ketika kekuasaan tidak hanya menikmati aturan, tetapi mulai tergoda membentuk aturan agar sesuai dengan kepentingannya sendiri.
Syarat dapat dicari celahnya. Pasal dapat diperebutkan tafsirnya. Prosedur dapat ditekuk. Lembaga yang seharusnya membatasi kekuasaan dapat ditarik menjadi tameng untuk mempertahankannya.
Hukum lalu tidak lagi berdiri di atas kepala pemegang kekuasaan seperti paduka di atas kepala Bharata.
Hukum justru diturunkan ke bawah kepentingan orang yang sedang berkuasa.
Pada keadaan yang paling buruk, pembalikannya menjadi sempurna: jabatan ditempatkan begitu tinggi, sementara rakyat yang seharusnya diayomi justru diperlakukan seperti alas kaki.
⸻
Minggu ini saya bergerak di antara dua dunia.
Saya bertemu orang-orang dari kelompok usaha besar. Dari percakapan itu saya melihat betapa dekatnya bisnis berskala besar dengan kebijakan, proyek strategis, dan pusat pengambilan keputusan. Negara tentu mempunyai alasan yang sah untuk memberi dukungan dan kepastian kepada investasi yang dinilai penting.
Pada minggu yang sama saya bertemu seorang guru sekolah dasar.
Honornya sekitar Rp1,2 juta sebulan.
Ia tidak sedang berbicara tentang konsesi, proyek besar, atau akses kepada pusat kekuasaan. Ia sedang berusaha membuat penghasilannya cukup untuk menjalani kehidupan.
Dua dunia itu hidup di republik yang sama.
Satu perjumpaan tentu tidak cukup untuk menggambarkan seluruh Indonesia. Namun ia cukup membuat saya bertanya:
Apakah jarak seseorang dari pusat kekuasaan ikut menentukan seberapa lapang jalan hidupnya?
Pertanyaan itu tidak hanya saya tujukan kepada pemerintah.
Ia kembali kepada saya sendiri.
Saya seorang pengusaha.
Pertambangan, energi, dan properti—bidang-bidang yang saya jalani—hampir tidak mungkin bergerak tanpa bersentuhan dengan pemerintah. Ada tanah, lingkungan, kehutanan, energi, dan berbagai perizinan yang harus dilewati.
Saya mengenal rasanya menunggu proses administrasi berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun.
Saya juga mengenal bisikan yang muncul ketika jalan resmi terasa terlalu panjang:
Cari orang yang tepat.
Gunakan jalur yang lebih dekat.
Kalau tidak begitu, kapan selesai?
Saya ingin mengatakan bahwa saya selalu kebal terhadap godaan itu.
Saya tidak berani.
Sebab kaca batin bukan dibuat agar kita terlihat bersih. Ia dibuat agar kita berani melihat noda sebelum terbiasa menganggapnya sebagai sesuatu yang wajar.
Di situlah Bharata membuat saya tidak nyaman.
Ia mempunyai akses yang jauh lebih besar daripada akses seorang pengusaha kepada pejabat.
Ia mempunyai akses langsung kepada takhta.
Namun ketika keadaan memungkinkan dirinya mengambil keuntungan dari kedekatan itu, Bharata justru memasang batas terhadap dirinya sendiri.
⸻
Mungkin integritas bukan terutama kemampuan mengatakan “tidak” ketika semua orang sedang mengawasi.
Integritas diuji ketika kita bisa melakukannya, mempunyai akses untuk melakukannya, orang lain mungkin memakluminya, dan tidak ada yang cukup kuat untuk menghalangi—namun kita sendiri memilih memasang batas.
Bharata tidak membuang kekuasaan.
Ia menggunakannya.
Dharma tidak meminta manusia meninggalkan jabatan, kekayaan, jaringan, pengetahuan, atau pengaruh. Semua itu dapat menjadi daya untuk menghidupkan kehidupan.
Dari Minahasa kita mengenal Si Tou Timou Tumou Tou—manusia hidup untuk memanusiakan manusia lain. Dalam rasa Jawa, ada urip kang nguripi—hidup yang ikut menghidupkan.
Bahasanya berbeda, namun keduanya mengingatkan: kemampuan yang kita miliki menemukan martabatnya ketika ikut membuat kehidupan orang lain bertumbuh.
Maka ukuran kekuasaan sesungguhnya sederhana.
Guru tidak semestinya membutuhkan orang dalam agar jerih payahnya memperoleh penghargaan yang layak.
Pengusaha tidak semestinya membutuhkan kedekatan dengan kekuasaan agar izin yang memenuhi persyaratan diproses secara wajar.
Warga tidak semestinya memohon sebagai belas kasihan sesuatu yang sesungguhnya merupakan haknya.
Negara yang mengayomi membuat semakin sedikit orang membutuhkan “orang dalam”.
⸻
Empat belas tahun kemudian Rama kembali.
Bharata dapat menyerahkan kerajaan yang dijaganya tanpa perlu mempertahankan kursi, mencari pembenaran, atau mengubah aturan agar kekuasaan tetap berada di tangannya.
Sebab sejak awal ia tidak pernah menganggapnya milik sendiri.
Mungkin itulah sebabnya adegan di Citrakuta dan Nandigrama masih berbicara setelah ribuan tahun.
Takhta berada dalam jangkauan Bharata.
Namun ia tidak meminta mahkota.
Ia meminta sepasang sandal.
Rama menyerahkannya.
Bharata menerimanya, lalu mengangkatnya ke atas kepala.
Bharata nyunggi paduka Rama.
Alas kaki ditempatkan di atas kepala. Paduka kemudian diletakkan di atas takhta. Sementara orang yang menjalankan kekuasaan memilih pakaian pertapa dan tinggal di Nandigrama.
Sebuah pembalikan yang sederhana, namun dalam:
bukan rakyat yang menjadi alas kaki kekuasaan; kekuasaanlah yang harus merendahkan diri di hadapan amanah kepada rakyat.
Barangkali republik tidak akan pernah bebas dari orang yang dekat dengan kekuasaan.
Yang harus diperjuangkan ialah agar kedekatan tidak menentukan siapa yang memperoleh keadilan, dan kekuasaan tidak dapat mengubah aturan hanya untuk melindungi dirinya sendiri.
Sebelum menunjuk orang lain, pertanyaan itu sebaiknya kembali kepada diri:
Ketika jabatan, kekayaan, jaringan, atau kedekatan membuka jalan yang lebih pendek bagi saya, apakah masih ada sesuatu yang sanggup saya letakkan lebih tinggi daripada kepala saya sendiri?








