• Home
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Pemberitaan
  • Kode Etik
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
Jumat, Desember 12, 2025
GemaBisnis.com - Bersama Membangun Bangsa
  • Home
  • Hot News
  • Bursa Komoditi
  • Energi & Pertambangan
  • Kehutanan & Lingkungan
  • Perkebunan
  • Peternakan
  • Lainnya
    • Perikanan
    • Pangan
    • Hortikultura
    • Manufaktur
    • Opini
    • Umum
    • Ekbis
    • Profil
No Result
View All Result
  • Home
  • Hot News
  • Bursa Komoditi
  • Energi & Pertambangan
  • Kehutanan & Lingkungan
  • Perkebunan
  • Peternakan
  • Lainnya
    • Perikanan
    • Pangan
    • Hortikultura
    • Manufaktur
    • Opini
    • Umum
    • Ekbis
    • Profil
No Result
View All Result
GemaBisnis.com - Bersama Membangun Bangsa
No Result
View All Result

Krisis Ekonomi Penyakit Kambuhan

Oleh: Fauzi Aziz, Pemerhati Ekonomi dan Industri

Admin by Admin
Juli 11, 2022
0

Foto: Pribadi

0
SHARES
109
VIEWS
Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke WhatsApp

PERTAMA, kita sudah sering mendapatkan diskursus macam-macam tentang krisis ekonomi. Salah satunya dikatakan bahwa tidak ada satupun pakar  yang bisa memperkirakan kapan krisis ekonomi akan terjadi. Juga tidak ada yang bisa memprediksi seberapa besar dampaknya, seberapa cepat efek penularannya, dan kapan akan usai.

KEDUA, krisis sebagai penyakit kambuhan boleh jadi benar karena kita anggap sebagai siklus ekonomi biasa. Mudah kambuh karena para penderita krisis tidak pernah kapok atau tidak pernah disiplin, dan mau berkomplentasi bahwa penyakit krisis itu adalah seringkali membuat derita bagi pemerintah,dunia usaha, dan masyarakat luas.

Derita yang paling menyakitkan adalah potensial membangkrutkan. Tapi harap dicatat bahwa krisis dapat dikatakan sengsara membawa nikmat. Nikmat bagi para pengelola sistem kapitalisme global. Mereka datang menawarkan dana talangan untuk para korban krisis.

BacaJuga

Pembayaran Royalti Musik, Pelaku Usaha Untung, Konsumen Buntung

Presiden Putin Apresiasi Peningkatan Kerjasama Indonesia-Rusia

Karena krisis sebagai penyakit kambuhan, maka saking sudah hafal dengan penyakitnya, para dokter langsung bisa bikin resep penyelamatan menurut konsep yang mereka yakini benar dan tepat Obatnya adalah generik, yaitu liberalisasi, dan Structural Ajusment Progam (SAP) . Resep ini ada dalam “farmakologi” IMF. yang disebut dengan sebutan Washington Concensus.

KETIGA, sengsara bagi korban karena krisis bisa menjatuhkan nilai mata uang sebuah negara, membuat negara menjadi miskin, sektor manufaktur menjadi bangkrut, harga properti berjatuhan,harga saham tidak ada nilainya, dan dapat mengeringkan likuiditas nasional suatu negara.

Sekarang ini, kalau menurut hemat penulis krisis ekonomi global itu sudah terjadi, tanpa harus menunggu pertumbuhan ekonominya negatif selama dua kuartal berturut-turut. Yang jelas dampak dari perang Rusia – Ukraina, rantai pasok yang mengalami gangguan, dan harga komoditas yang meningkat, khususnya harga bahan pangan dan energi yang naik signifikan, aktivitas perekonomian global telah mengalami penurunan signifikan.

Penyakit kambuhan ini sudah parah.Jika harus menunggu pertumbuhan ekonomi negatif dalam dua kuartal berturut-turut, maka aktivitas ekonomi global sudah keburu kolaps dan memakan banyak korban. Pimpinan IMF sendiri mengatakan bahwa perekonomian dunia telah.gelap gulita, dan tahun 2023 krisis ekonomi global akan terjadi.Apakah gelap gulita = krisis,ini pertanyaan kita.

KEEMPAT, fakta yang dunia hadapi ini sejak COVID- 19 bertaburan di bumi dan merusak sendi-sendi kehidupan sosial ekonomi penduduk dunia, aktivitas ekonomi praktis tidak bisa bergerak. Baru mau pulih sudah sakit lagi. Biaya pemulihan sudah milyaran dolar AS  digelontorkan, hasilnya tidak maksimal karena kini datang lagi krisis serupa dan lebih kompleks.

Tidak hanya sekedar krisis keuangan saja, tapi juga mencakup krisis pangan dan energi, krisis kesehatan, dan yang paling ditakuti adalah krisis kepercayaan yang berpotensi menimbulkan kegelisahan sosial. Berarti duit lagi harus disiapkan untuk memitigasi risiko yang timbul. Boleh jadi lebih besar dari krisis 1997/1998.Hanya negara yang memiliki dana kontijensi dalam jumlah besar yang bisa mengatasi krisis secara mandiri.

Bagi yang tidak mempunyai cadangan dana, pasti akan mengandalkan sumber dana mitigasi yang berasal dari pinjaman.Akhirnya ketemu lagi jebakan utang. Kita tahu sejak pandemi COVID-19, jumlah utang global telah mencapai US$ 281 triliun atau sekitar 355% terhadap PDB global (data IIF) . Meningkat rata-rata 12,5% dibandingkan dengan kondisi sebelum ada pandemi COVID- 19.

KELIMA, krisis bagi golongan berpunya relatif cenderung tidak menjadi masalah, meskipun nilai asetnya tergerus oleh inflasi. Bagi kalangan tak mampu atau marginal tentu bebannya sangat berat,sehingga kelompok ini harus disubsidi oleh pemerintah agar mereka tetap survival sehingga dapat dicegah terjadinya kegelisahan sosial.

Institusi – institusi ekonomi yang bergerak di berbagai bidang usaha, baik BUMN /BUMD/BUMDES maupun usaha swasta  dan UMKM harus diselamatkan untuk menghindari kebangkrutan massal yang.bisa menimbulkan PHK  dan angka pengangguran absolut akan bertambah. Fundamental ekonomi bisa rontok jika erupsi krisisnya besar.

KEENAM, jika prediksinya krisis ekonomi akan terjadi di AS dan efek penularannya menyebar ke seluruh dunia , maka negeri ini yang akan selamat duluan karena diselamatkan oleh the fed. US$ kini telah berada di lumbungnya.

Cukup lama US$ akan menikmati masa “liburan” di kampungnya.. Mudiknya US$ menjadi bencana bagi nilai tukar mata uang negara-negara emerging economy karena mengalami pelemahan cukup tajam.

Likuiditas mata uang lokalnya bisa terkuras ketika hendak belanja barang dan jasa impor dan membayar cicilan utang pokok dan bunganya  yang jatuh tempo. Pendapatan nasional dalam denominasi uang lokal nilai riilnya turun termakan inflasi. Karena itu, di saat seperti sekarang ini, banyak institusi bisnis dan masyarakat kelas menengah tengah tengah dan atas lebih merasa nyaman pegang US$ daripada pegang mata uang lokalnya.

KETUJUH, begitu tabiat krisis ekonomi dari waktu ke waktu. Kita tidak perlu repot-repot buat perbandingan antara krisis 1998, 2008,dan 2020 karena ujungnya akan menjadi sengsara membawa nikmat. Ujungnya perlu penyelamatan, butuh stimulus, dan bailout.

Jika pemulihan sudah terjadi,maka pasar modal akan mulai rame lagi, dan investor akan memborong kembali saham – saham yang harganya rontok pada saat krisis terjadi.  Sekarang ini dana global berbasis US$ sedang ditarik dari emerging economy ke pusat kendalinya di AS.

Setelah itu dipompa kembali ke negara – negara emerging economy dalam bungkus stimulus dana talangan dan sebagainya. Yang ngatur distribusinya adalah IMF, WB setelah mendengar kajian lembaga rating internasional. Sudah balik dapat untung lagi,yaitu berasal dari bunga yang diterima dan laba kurs.

Setelah itu, the fed akan printing money untuk memperkuat likuiditas internationalnya di negara – negara emerging economy yang disalurkan melalui proxi – proxinya, baik sebagai state actor maupun non state actor.

Tags: Bank DuniaIMFkrisis ekonomipenyakit kambuhan
Previous Post

Faisal Basri: BPR & BPRS Diperlakukan Tidak Adil, Diskriminatif dalam UU Perbankan Syariah

Next Post

PBB: Populasi Penduduk Dunia Capai 8 Miliar Jiwa Tahun Ini

Admin

Admin

Related Posts

Pembayaran Royalti Musik, Pelaku Usaha Untung, Konsumen Buntung
Opini

Pembayaran Royalti Musik, Pelaku Usaha Untung, Konsumen Buntung

by Admin
Agustus 14, 2025
0

Isu pembayaran royalti musik khususnya terhadap pelaku usaha kafe, restoran dan pub terus bergulir. Sikap masyarakat pun terbelah terhadap pungutan...

Read more
Presiden Prabowo, Presiden Putin Saksikan Pertukaran MoU Kemitraan Strategis Indonesia-Rusia

Presiden Putin Apresiasi Peningkatan Kerjasama Indonesia-Rusia

Juni 20, 2025
Presiden Prabowo, Presiden Putin Saksikan Pertukaran MoU Kemitraan Strategis Indonesia-Rusia

Presiden Prabowo, Presiden Putin Saksikan Pertukaran MoU Kemitraan Strategis Indonesia-Rusia

Juni 20, 2025
Suasana pemberian makanan jemaah haji dengan petugas kesehatan, dokter dan kepala regu rombongan Kloter 53 Jakarta

Sungguh Beruntung Mereka yang Ada di Arafah Saat Itu

Juni 19, 2024
Thailand Keluhkan Ketatnya Persyaratan Halal di Indonesia

Thailand Keluhkan Ketatnya Persyaratan Halal di Indonesia

Mei 28, 2024
Next Post
KPPI Mulai Penyelidikan Perpanjangan Safeguard Atas Lonjakan Impor Produk Kain

PBB: Populasi Penduduk Dunia Capai 8 Miliar Jiwa Tahun Ini

BERITA TERBARU

Presiden Prabowo, Presiden Putin Saksikan Pertukaran MoU Kemitraan Strategis Indonesia-Rusia

Indonesia Nyatakan Siap Tandatangani FTA dengan Uni Ekonomi Eurasia

Desember 11, 2025
Ekspor Naik 25,31% YoY, Impor Melonjak 36,77% YoY pada Januari 2022

Kesepakatan Dagang AS-Indonesia Terancam Batal, Ungkap Pejabat AS

Desember 11, 2025
Jelang Nataru, BULOG Gelontorkan Ribuan Ton Beras SPHP di Papua Raya

Jelang Nataru, BULOG Gelontorkan Ribuan Ton Beras SPHP di Papua Raya

Desember 10, 2025
Menperin RI Lakukan Pertemuan Bilateral dengan Menperindag Rusia di Moskow

Menperin RI Lakukan Pertemuan Bilateral dengan Menperindag Rusia di Moskow

Desember 9, 2025
Indonesia–Russia Perkuat Kolaborasi Industri Jelang INNOPROM 2026

Indonesia–Russia Perkuat Kolaborasi Industri Jelang INNOPROM 2026

Desember 9, 2025
BULOG Percepat Pengiriman Beras SPHP ke Empat Wilayah Sulit Terjangkau di Papua

BULOG Percepat Pengiriman Beras SPHP ke Empat Wilayah Sulit Terjangkau di Papua

Desember 9, 2025
GemaBisnis.com - Bersama Membangun Bangsa

Gemabisnis.com adalah sebuah paltform informasi, investasi dan data yang berfokus pada bidang ekonomi dan bisnis, khususnya pasar komoditi di Indonesia dan global.

Follow Us

Kategori Populer

  • Bursa Komoditi
  • Ekbis
  • Energi & Pertambangan
  • Hortikultura
  • Hot News
  • Kehutanan & Lingkungan Hidup
  • Manufaktur
  • Opini
  • Pangan
  • Perikanan
  • Perkebunan
  • Pertanian
  • Peternakan
  • Profil
  • Umum
  • Uncategorized
  • Wisata

Berita Terbaru

Presiden Prabowo, Presiden Putin Saksikan Pertukaran MoU Kemitraan Strategis Indonesia-Rusia

Indonesia Nyatakan Siap Tandatangani FTA dengan Uni Ekonomi Eurasia

Desember 11, 2025
Ekspor Naik 25,31% YoY, Impor Melonjak 36,77% YoY pada Januari 2022

Kesepakatan Dagang AS-Indonesia Terancam Batal, Ungkap Pejabat AS

Desember 11, 2025
  • Home
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Pemberitaan
  • Kode Etik
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Copyright © 2021 www.gemabisnis.com

No Result
View All Result
  • Home
  • Hot News
  • Bursa Komoditi
  • Energi & Pertambangan
  • Kehutanan & Lingkungan Hidup
  • Perkebunan
  • Peternakan
  • Perikanan
  • Pangan
  • Hortikultura
  • Manufaktur
  • Opini
  • Umum
  • Ekbis
  • Profil

Copyright © 2021 www.gemabisnis.com